Kamis, 07 Maret 2013

Sastrawan Arab



BAB VI
SASTRAWAN ARAB

1.      UMAYAH BIN ABI ASH-SHALT
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama aslinya adalah Abu Utsman Umayyah bin Abi ash-Shalt Abdullah ibn Abi Rabi’ah ibn Auf Ats-Tsaqafi. Ia merupakan penyair Tsaqif dan termasuk salah seorang pencari agama yang benar pada masa Jahiliyyah. Ia dibesarkan di Thaif. Ayahnya adalah seorang penyair terkenal, ia banyak belajar kepada sang ayah dalam berpuisi, untuk bekal pandangan-pandangan agama ia mencarinya kepada Ahlul Kitab.
Umayyah bin Abi ash-Shalt merupakan salah seorang yang banyak meriwayatkan berita-berita tentang orang-orang Yahudi, Nasrani, dan sisa-sisa agama Ibrahim serta Ismail, berita tentang kisah penciptaan langit, bumi, malaikat, jin, syari’at para nabi dan rasul yang masih tersimpan dalam ingatan para sesepuh Arab Jahiliyyah. Ia selalu aktif beribadah dan mengenakan pakaian pengembara. Dia juga merupakan seseorang yang mengharamkan Khamr (minuman keras/arak) dan meragukan kepercayaan terhadap berhala.
Di dalam kitab-kitab yang dibacanya, ia menemukan berita gembira tentang akan diutusnya seorang Nabi dari bangsa Arab. Mendengar berita mengenai hal itu, ia pun berambisi menjadi seorang Nabi yang dimaksudkan tersebut. Hingga suatu ketika, Rasulullah Saw diutus, hati Umayyah bin Abi ash-Shalt ragu dan memendam rasa dengki dan iri, ia berusaha melawan dan mengingkari agama yang dibawa oleh beliau Saw, meskipun dia tahu bahwa agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw itu benar. Umayyah mengajak dan mendorong orang-orang Quraisy untuk mengingkari Nabi Saw, dan meratapi orang-orang Quraisy yang meninggal dalam perang Badar.
Nabi Muhammad Saw. melarang periwayatan puisinya yang berkenaan dengan hal itu. Sehingga berkenaan dengan kejadiaan tersebut, turunkanlah ayat al-Qur’an yang berbunyi:
“واتل عليهم نبأ الذى آتيناه آياتنا فانسلخ منها فأتبعه الشيطان فكان من الغاوين”

“Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang seseorang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab) kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (mengingkarinya), lalu dia diikuti oleh setan-setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk golongan orang-orang yang sesat” (Al-A’raf, 7: 175).
Dan apabila Nabi Saw mendengar puisi Umayah yang berkenaan dengan tauhid, keimanan, dan pujian kepada Allah Swt, maka beliau Saw. bersabda:
آمن لسانه وكفر قلبه
“Dia beriman lidahnya, tetapi hatinya kafir”
Kebanyakan puisi-puisi pujian (madah) Umayyah bin Abi ash-Shalt pada masa Jahiliyyah dikhususkan kepada Abdullah ibn Jud’an, salah seorang bangsawan dan hartawan Quraisy, sehingga dia menempati kedudukan seperti kedudukan Zuhair bin Abi Sulma pada Haram ibn Sinan. Dia menghabiskan sisa-sisa hidupnya di Thaif sampai meninggal dalam kekafiran pada tahun ke-9 Hijrah.
Puisi-Puisinya
Umayyah bin Abi ash-Shalt temasuk salah seorang pembesar penyair pedesaan, meskipun dikalangan mereka sedikit sekali puisi yang beredar. Hanya saja yang membuat puisinya tercela dalam pandangan sebagaian sarjana bahasa Arab, sehingga mereka mengugurkan untuk berargumen dengan puisinya adalah karena dalam puisinya banyak menggunakan bahasa serapan dari bahasa Ibrani dan Suryani. Seakan-akan mereka mengingkari kebenaran adanya ta’rib (serapan ke dalam bahasa Arab) karena seringnya berbaur dengan orang-orang asing, meski bahasa Arabnya jelas. Sebagaimana mereka mengingkari Adi ibn Zaid karena dia banyak memasukkan kata-kata dari bahasa Persia ke dalam puisinya karena dia lama bergaul dengan mereka.
Umayyah bin Abi ash-Shalt menyebut langit (as-sama`/السماء ) dengan shooquuroh (صاقورة). Dia menyatakan bahwa bulan memiliki kulit penutup yang jika terjadi gerhana bulan ia masuk ke dalamnya, ia menamakan dengan as-saahuur (الساهور), serta ia menamakan Allah dalam puisinya dengan as-Sulthith (السلطيط), At-Taghruur (التغرور), dan sebagainya.
Puisi yang diciptakannya berbeda dengan puisi para penyair lainnya, dengan kemudahan dalam kosakatanya dan dengan menyebutkan keajaiban-keajaiban dari kisah-kisah fiksi dan legenda-legenda, penciptaan alam dan kehancurannya, keadaan akhirat, sifat-sifat Sang Pencipta dan kekhusyukan pada-Nya. Dalam menyebutkan hal tersebut Umayyah menggunakan kata-kata yang belum pernah digunakan oleh seorang penyair pun sebelumnya. Puisinya juga diselingi oleh kata-kata hikmah dan pribahasa. Diantara puisi-puisinya adalah:
الحمد لله ممسان ومصبحنا  ¤  بالخير صبحنا ربى ومسانا
رب الحنيفة لم تنفد خزائنه  ¤  مملوءة طبق الآفاق سلطانا
ألا نبى لنا منا فيخبرنا  ¤  ما بعد غايتنا من رأس محيانا
وقد علمنا لوان العلم ينفعنا  ¤  أن سوف تلحق أخرانا بأولانا 

“Segala puji milik Allah kala kita berada di saat pagi dan petang, semoga Tuhanku memberikan kebaikan pada kita pada pagi dan petang”
“Tuhan Ibrahim yang Hanif, yang tak habis-habis simpanan-Nya, memenuhi cakrawala dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas”
“Ingatlah, ada seorang Nabi diantara kita yang diangkat dari kalangan kita, lalu memberitahukan kepada kita munculnya pemimpin yang menjadi tujuan kita”
“Kami telah mengetahuii berbagai ilmu yang bermanfaat bagi kami, bahwa orang-orang yang terakhir akan mengikuti orang-orang yang terdahulu dari kami”
Dia mencela anaknya dengan mengatakan:

عذوتك مولودا ومنتك يافعا  ¤  تلعل بما أجنى إليك وتنهل
إذا ليلة نابتك بالشجو لم أبت  ¤  لشكواك إلا ساهرا أتململ
كأنى أنا المطروق دونك بالذى  ¤  طرقت به دونى فعنى تهمل
تخاف الردى نفس عليك وإننى  ¤  لأعلم أن الموت حتم مؤجل
فلما بلغت السن والغاية التى  ¤  إليها مدى ما كنت فيك أؤمل
جعلت جزائى غلظة وفظاظة  ¤  كأنك أنت المنعم المتفضل

“Pagi hari kau lahir, siang hari kau besar, semoga demikian adanya yang aku petik darimu dan yang kau reguk dari minum pertamamu”
“Ketika di suatu malam kau terluka, semalaman aku tak bias tidur, buka karena mendengar keluhannya, tetapi karena terjaga dan rasa bosan”
“Seakan-akan aku sendiri yang memukul-mukulmu dengan pukulan-pukulan yang dipukulkan padaku sehingga merasa kelelahan”
“Kau takut hal yang terburuk menimpa jiwamu, padahal sesungguhnya aku tahu bahwa sang maut pasti datang menjemput”
“Ketika kau telah mencapai usia dewasa dan mencapai tujuan, yang kau gapai sejauh kau dapat menggapainya. Aku pun tak dapat lagi mengharapkan apa-apa darimu”
“Kau jadikan balasan buatku kekasaran dan kebencian, seakan engkau sendiri yang memberikan kesenangan yang berlebihan”
Di antara puisi madah-nya (puisi yang berisikan pujian) :

عطاؤك زين لامرئ قد جبو ته  ¤  بخير وما كل العطاء يزين
وليس يشين لامرئ بذل وجهه  ¤  إليك كما بعض السؤال يشين

“Pemberianmu adalah hiasan bagi orang yang telah kau berikan kebaikan, padahal tidak setiap pemberian dapat menjadi perhiasan”
“Bukanlah sesuatu yang dikehendaki oleh seseorang adalah akan mengarahkan wajahnya padamu, seperti sebagian yang diminta bukanlah yang dikendaki”
Di antara puisi-puisinya yang berisikan mengenai kematian ketika datang menjemputnya adalah:
إن نغفر اللهم نغفر جما  ¤  و أى عبد لك لا ألما

“Jika Engkau berkenan mengampuni, Ya Allah Tuhanku, ampunilah semuanya, sebab hamba mana yang tiada berharap mendapat ampunan-Mu”
  1. 2.       LUBAID BIN RABI’AH
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkapnya adalah Lubaid bin Rabi’ah bin Malik. Ia sering juga dijuluki Abu ‘Uqail al-’Amiry. Ia termasuk salah satu penyair yang disegani pada masa jahiliyyah. Ia berasal dari kabilah Bani ‘Amir Ibnu Sho’sho’ah, yaitu salah satu pecahan dari kabilah Hawazin Mudhar[1]. Ibunya berasal dari kabilah ‘Abas. Lubai dilahirkan sekitar tahun 560 M. Selain sebagai penyair, ia juga dikenal sebagai orang dermawan dan pemberani. Sifat kedermawanannya diwarisi dari ayahnya yang dijuluki dengan “Rabi’ al-Muqtarin”. Sedangkan sifat keberaniannya diwarisi dari kabilahnya.
Lubaid bin Rabi’ah al-Amiri adalah penyair Jahiliyyah yang memiliki usia yang panjang. Dia berumur 145 tahun, dan sempat mendapatkan masa Islam. Namun, penyair ini tetap digolongkan ke dalam penyair Jahiliyyah, karena sesudah masuk Islam, ia tidak mengucapkan puisi lagi kecuali hanya satu bait saja.
Dahulu, di antara kabilah Bani ‘Amir dengan kabilah Bani ‘Abas terjadi permusuhan yang sengit. Hingga akhirnya kedua utusan dari kedua kabilah tersebut dipertemukan dihadapan al-Nu’man bin al Mundzir. Dari Bani ‘Abas diantaranya ada al-Rabi’ bin Ziyad dan dari Bani Amir diantaranya ada para pendekar. Pada saat itu al Rabi’ dan al Nu’mân duduk-duduk bersama menikmati hidangan makan dan minum. Ia merasa iri dengan orang-orang dari Bani Amir, maka iapun menyebut-nyebut aib dan kekejian mereka. Maka ketika utusan dari mereka masuk menemui al-Nu’man, ia tak memperdulikannya dan memalingkan mukanya. Hal inilah yang kemudian membuat mereka jengkel, dan kemudian keluar dengan wajah memerah karena kemarahan. Pada saat kejadian itu, Lubaid masih kecil, sehingga ketika ia bertanya tentang siapa saja para ahli pidato dari mereka, ia pun diejeknya karena dianggap belum cukup umur. Ia begitu sangat berharap bisa bergabung dengan mereka. Iapun bersumpah akan memberi pelajaran kepada al-Rabi’ kelak nanti di hadapan al-Nu’man. Sumpahnya akhirnya terwujud, al-Nu’man akhirnya membenci al-Rabi’ dan ia tak lagi mau menemuinya serta melaknatnya. Setelah itulah, Bani ‘Amir mulai terangkat. Raja menghormati mereka dan memenuhi segala kebutuhannya. Inilah awal dari popularitas Lubaid. Ia melantunkan puisi-puisi singkat dan puisi-puisi panjangnya. Ketika puisinya dilantunkan, an-Nabighah pun mengakui bahwa Lubaid adalah seorang penyair yang paling ulung dari kalangan Kabilah Hawazin dengan usia yang masih relatif muda. Puisi yang membuat al Nâbighah terbius adalah puisi pada mu’allaqahnya yang bait pertamanya berbunyi :
عفت الديار محلها فمقامها  ¤  بمنى بأبد غولها فرجامها

“Bekas-bekas reruntuhan perkampungan itu telah lenyap, tempatnya di Mina, tanahnya rendah dan tingginya menyeramkan”
Mendengarkan puisinya itu, lalu an-Nabighah berkata:
“Pergilah hai anak, sesungguhnya kamu akan menjadi penyair suku Qais yang terkenal[2].
Para ahli sastra Arab menggolongkan puisinya ke dalam kelas tinggi, yang dilihat dari segi kesopanan dan lebih condong kepada ketuhanan. Dalam puisinya banyak menunjukkan sifat mulia dan kemauannya yang keras dalam mencapai martabat yang tinggi. Yang paling menonjol sekali dari puisinya, ia tidak pernah mengejek atau menjelek-jelekan siapa pun, dan juga tidak pernah merendahkan diri kepada orang besar (raja atau bangsawan). Karena penyair ini tidak menjadikan puisinya sebagai modal untuk mencari kedudukan ataupun harta kekayaan seperti yang banyak dilakukan oleh penyair Jahiliyyah lainnya. Sebaliknya ia selalu membanggakan kaumnya yang selalu berusaha mendapatkan kemuliaan dalam menolong orang yang lemah.
Ketenaran penyair ini juga tidak menghalanginya untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa pada suatu hari ketika rombongan yang diperintahkan oleh Nabi Saw untuk mendakwahkan Islam di Madinah, dan Lubaid mulai tertarik akan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Saw. Akan tetapi, pada saat itu ia masih belum menyatakan keislamannya. Setelah beberapa tahun kemudian barulah ia bersama rombongannya datang kepada Rasulullah Saw untuk menyatakan keislamannya, dan ia kembali pulang ke kabilahnya dan menerangkan mengenai surga, neraka, hari kebangkitan, dan mengajarkan al-Quran kepada kaumnya.
Puisi-Puisinya
Diwan Lubaid telah dikodifikasikan oleh banyak sekali para sastrawan terkenal. Sedangkan periwayatan yang ada hanyalah periwayatan dari Ali bin Abdullah al-Thusy yaitu salah seorang murid dari Ibn al-’Araby yang meninggal pada tahun 231 H/844 M.
Pada masa Umar bin al Khathab – Setelah terjadi pembukaan beberapa kota – Lubaid pergi ke Kufah. Lubaid tinggal dan hidup di sana cukup lama, sampai ajal menjemputnya pada awal masa kekhalifahan Mu’awiyyah pada tahun 41 H / 661 M.[3] Ada yang mengatakan bahwa usianya mencapai 130 tahun. Ia termasuk salah satu pemilik mu’allaqat. Ia memiliki sebanyak kurang lebih 122 qasidah dan 1322 bait puisi.
Sebagian para ahli kesusastraan Arab menggolongkan Lubaid sebagai penyair Jahiliyyah, karena sesudah masuk Islam, penyair ini tidak lagi mengucapkan puisi, kecuali hanya satu bait saja, sebuah puisi yang diucapkannya ketika menyatakan diri ke dalam Islam seperti yang terdapat di bawah ini[4]:
الحمد لله أن لم يأتنى أجلى  ¤  حتّى لبست من الإسلام سربالا

“Al-Hamdulillah, ajalku tidak datang sebelum aku menjadi seorang muslim”
Akan tetapi, sebagian ahli kesusastraan Arab yang lain menggolongkan Lubaid ke dalam penyair Islam, karena ia banyak menghasilkan puisi-puisi yang bernafaskan Islam, dan puisi-puisinya telah terpengaruh oleh ayat-ayat suci al-Quran.
Pada zaman Jahiliyyah puisi-puisinya banyak membicarakan seputar pujian (madah), mencaci atau mengejek (hija’), bahkan banyak dari puisinya yang berisikan kebanggaan terhadap kaumnya. Seperti yang terdapat dalam kutipan puisi di bawah ini[5]:
إنا إذا التقت المجامع لم يزل  ¤  منا لزاز عظيمة جشامها
ومقسّم يعطى العشيرة حقها  ¤ ومغذمر لحقوقها هضامها
فضلا وذو كريم يعين على الندى  ¤  سمح كسوب رغائب غنامها
من معشر سنّت لهم آباؤهم  ¤  ولكل قوم سنة وإمامها
لايطبعون ولايبور فعالهم  ¤  إذ لا يميل مع الهوى احلامها
وهم السّعاة إذا العشيرة افظعت  ¤  وهم فوارسها وهم حكّامها
وهم ربيع للمجاور فيهم  ¤  والمرملات إذا تطاول عامها
 ”Bila beberapa kabilah sedang berkumpul, maka kaumku akan menandingi mereka dalam berdebat ataupun bertanding”
“Kaumku adalah pembagi yang adil, yang memberikan hak keluarganya, dan kaumku adalah sangat pemarah kepada siapa pun yang merampas hak keluarganya”
“Kaumku menolong dengan suka rela, karena mereka suka menolong, suka memaafkan, dan suka pada suatu kemuliaan”
“Kaumku berasal dari keturunan yang suka pada kemuliaan, dan bagi setiap kaum pasti mempunyai adat dan pemimpin sendiri”
“Kaumku tidak pernah merusak kehormatannya dan tidak suka mengotori budi pekertinya, karena mereka tidak senang mengikuti hawa nafsu”
“Bila keluarganya sedang tertimpa musibah, mereka akan membantu, merekalah pahlawan bila keluarga sedang terserang dan merekalah yang akan menundukkan musuh”
“Kaumku adalah penolong bagi siapa pun yang meminta pertolongan, dan pembantu bagi janda yang tertimpa kemalangan”
Kemudian, pada masa permulaan Islam, puisi-puisinya sudah banyak terpengaruh oleh gaya bahasa al-Quran dan isinya banyak mengandung ajaran-ajaran yang bernafaskan Islam, dikarenakan setelah memasuki Islam, Lubaid lebih tekun mempelajari ajaran-ajaran agama Islam yang terkandung dalam ayat-ayat suci al-Quran, seperti dalam salah satu bait-bait puisinya yang menerangkan keimanannya terhadap hari kebangkitan, di bawah ini[6]:

الا كلّ شيئ ما خلا الله باطل  ¤  وكلّ نعيم لا محالة زائل
وكلّ أناس سوف تدخل بينهم  ¤  دويهية تصفرّ منها الأنامل
وكلّ امرئ يوما سيعلم غيبه  ¤  إذا كشفت عند الاله الحصائل
 ”Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah pasti akan lenyap dan setiap kenikmatan pasti akan sirna”
“Dan pada suatu saat, setiap orang pasti akan didatangi oleh maut yang memutihkan jari-jari”
“Setiap orang kelak pada suatu hari pasti akan mengetahui amalannya jika telah dibuka catatannya di sisi Tuhan”.
Dalam menanggapi kemantapan isi bait puisi di atas, Nabi Muhammad Saw berkomentar dalam suatu sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim[7]:

اصدق كلمة قالها شاعر كلمة لبيد (الا كلّ شيئ ما خلا الله باطل)

“Sebaik-baik puisi yang pernah diucapkan seorang penyair adalah ucapan Lubaid yang berbunyi: “Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah pasti akan lenyap”
  1. 3.      AL-HARITS BIN HILLIZIAH AL-BAKRI
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama aslinya adalah Al-Harits bin Hillizah al-Yasykuri al-Bakri, ia merupakan salah seorang pemilik puisi mu’allaqat yang terkenal dengan satuan bait-bait puisinya, pemikirannya bagus dan spontanitas, menjadi pribahasa dalam puisi hammasah (patriotik) dan fakhr-nya (berbangga). Silsilah keturunannya sampai kepada Bakr bin Wail.
Posisinya dalam kabilah itu seperti posisi Amru bin Kultsum dalam kabilah Taghlib. Peninggalan karya puisinya hanyalah puisi-puisi pendek yang sederhana dan puisi mu’allaqat-nya, yang permulaannya adalah:
آذنتـنا يبينها أسـماء  ¤  رب ثاو يمل منـه الثــواء
“Perpisahannya dengan kami memberitahukan nama-nama dewa yang bersemayam di sana dibuat bosan bersemayam di sana”
Adalah dikarenakan oleh mu’allaqqat-nya inilah Amru bin Hindun, salah seorang raja Hirah mendamaikan antara kabilah Bakr dan kabilah Taghlib menyusul peperangan antara kedua kabilah tersebut yang terkenal dengan perang al-Basus, serta mengambil dari masing-masing kedua belah pihak jaminan tanggungan dari anggota kabilah untuk menghentikan pertikaian satu sama lainnya dan untuk mengikat bagi pihak yang menyerang dan diserang. Kemudian terjadi peristiwa bahwa raja meminta ganti serombangan ternak dari kabilah Taghlib dalam suatu keperluan. Kabilah Taghlib mengatakan bahwa hewan-hewan ternak itu menjarah air milik kabilah Bakr, lalu mereka menghalaunya dan menggiringnya ke daerah padang pasir yang gersang hingga ternak-ternak itu mati kehausan. Sementara kabilah Bakr mengatakan bahwa mereka memberi minum dan menggiring mereka ke arah jalan pulang, tetapi mereka lalu tersesat dan mati. Kedua pihak saling membela diri dihadapan Amru bin Hindun. Amru bin Hindun kemudian memihak kepada kabilah Taghlib, maka dengan spontanitas al-Harist bin Hillizah mencercanya dengan puisinya. Hal itu terjadi di majelis pertemuan dalam keadaan dia menutupi dirinya dengan tirai agar tidak kelihatan oleh raja, itu dikarenakan al-Harits menderita penyakit campak. Puisinya itu diungkapkan dengan spontanitas, di dalam puisi itu ia membanggakan kaumnya, menyanjung perbuatan mereka, serta kebaikan mereka dalam mendampingi dan menyertai raja dalam sebagian besar peperangan-peperangannya. Begitu al-Harits selesai berpuisi, raja berpindah ke samping kabilah Bakr, dan mendekati al-Harits serta membuka tirai yang menutupinya, lalu mereka berdua duduk bersama dalam tempat duduknya. Al-Harits berusia panjang, sehingga sebagian ulama sastra menyatakan bahwa sesungguhnya dia mendendangkan puisinya ini dalam usia seratus tiga puluh lima tahun”.
Puisi-Puisinya
Kebanyakan para perawi dan kritikus puisi terkagum-kagum dengan spontanitas al-Harits bin Hillizah dalam menciptakan puisi yang demikian panjangnya, dengan tepatnya susunan, banyaknya kata-kata unik (asing), teknik dan temanya variatif serta mengandung banyak informasi tentang peperangan bangsa Arab dan peristiwa-peristiwa pentingnya.
Di antara kata-katanya yang di dalamnya mengandung sesuatu yang demikian ringkas padat adalah kata-katanya yang melukiskan kepandaiannya dalam menciptakan puisi dengan spontan, kebenaran, dan kejelasannya dalam menggambarkan kenyataan:
أجمعوا أمرهم عشاء فلـما  ¤  أصبحوا أصبحت لهم ضوضاء
من مناد ومن مجيب ومن تصـ  ¤  ـهال خيل, خلال ذاك رغـاة
“Mereka menyepakati urusan mereka waktu Isya, tapi manakala pagi hari tiba mereka ribut, hiruk pikuk”
“Ada yang memanggil-manggil, ada yang menjawab bergalau dengan suara-suara ringkikan kuda diselingi dengan suara-suara unta”
Di antara perkataannya:

لايقيم العزيز بالبلد السهـ  ¤  ـل ولا ينفع الذليل النجـاء
ليس ينجى موائلا من خذار  ¤  رأس طود وحــرة رجـلاء
“Orang mulia tidak akan tinggal di negeri yang datar, orang lemah dan hina tidak berguna, bagi orang cerdas akan berjalan cepat”
“Tidak akan selamat orang yang melarikan diri menjauhi puncak gunung dan jalan berbatuan hitam walau dengan telapak kaki kuda yang tebal”
Di antara perkataannnya di luar mu’allaqat-nya adalah:

من حاكم بينـى وبيـ  ¤  ـن الدهر مـال علـىّ عـمدا
أودى بسـادتن اوقـد  ¤  تركوا لنا حلق اوجــردا
خيلى وفارسـها ورب  ¤ م أبيك كـان أعز فقدا
فلو أن مـا يأوى إلــىّ  ¤  م أصـاب من ثهـلان هدّا
فضـعى قـناعك إن ريـ  ¤  ـب الدهر قد أفنــى معدّا
فلكم رأيت معـاشــرا  ¤ قد جمّعوا مــالا وولـدا
وهم ربــاب حــائر  ¤  لا يسمع الآذان رعــدا
فعشن بجـد لا يضـر  ¤  ك النوك مــا لا قيـت جدا
والعـيش خير فى ظــلا  ¤  ل النوك ممـن عاش كــدّا
“Barang siapa menghakimi  di antara aku dengan sang masa, maka ia akan memihakku secara sengaja”
“Tebusan telah tampak pada para pemimpinkami, dan mereka telah meninggalkan pada kami senjata dan kuda”
“Kudaku dan penunggangnya dan ayahmu lebih banyak bersedih karena kehilangan”
“Andaikan ada yang berlindung kepadaku, niscaya tak akan tertimpa gunung Tsahlan yang runtuh”
“Maka tanggalkanlah kerudung penutup kepalamu, sesungguhnya bencana sang waktu telah melenyapkan kaum Ma’ad”
“Pada kalian aku melihat sekelompok orang, mereka telah mengumpulkan harta dan anak-anak”
“Mereka adalah gumpalan awan yang diam terpekur, yang tidak lagi mendengarkan gelegar halilintar”
“Hiduplah kamu dengan terus bekerja keras, kebodohan itu tidak akan membahayakan sepanjang kau mau terus bekerja keras”
“Lebih baik hidup di bawah naungan kebodohan, daripada hidup di bawah himpitan kesengsaraan”
Di antara perkataannya yang lain adalah:
إن السعيد له فى غيره عظة  ¤  وفى التجارب تحكيم ومعتبر

“Sesungguhnya orang yang bahagia, adalah orang yang memiliki pengajaran bagi orang lain, dan di dalam berbagai pengalaman hidup terdapat kemampuan mengadili dan memberi pelajaran
  1. 4.      AL-A’SYA BIN AL-QAISI

 Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkap dari penyair ini adalah Maimun al-A’sya bin al-Qaisi bin Jundul al-Qaisyi, dilahirkan di Manfuhah dikawasan Yumamah. Ia berasal dari kabilah Bakar bin Wail yang menurut riwayat kabilah ini merupakan bagian dan kelompok di Jazirah Timur yaitu lembah sungai Eufrat sampai Yamamah. Adapun keturunan (bani) yang lebih dan banyak dikenal dari kabilah ini ialah bani Syaiban, bani Yasykur, bani Jusyam, bani I’jul yang berada di lembah sungai Eufrat, bani Hanifah, dan bani Qais bin Tsa’labah yang berada dikawasan Yamamah. Dari bani-bani tersebut, bani Qais-lah yang lebih utama, yang secara turun-temurun berlanjut kepada bani-bani lainnya. Salah satunya adalah bani Malik bin Dubai’ah dari kerabat mereka yaitu bani Jahdar dan bani Sa’ad bin Dubai’ah, dari bani-bani inilah yang kemudian merupakan asal usul (satu keturunan) dari penyair al-A’sya bin al-Qais.
Nama al-A’sya merupakan julukan baginya, karena ia memiliki kadar penglihatan yang lemah (rabun). Nama pada saat karier kepenyairannya meningkat, ia dijuluki Abu Basir yang berarti orang yang mempunyai penglihatan. Konon ayahnya mempunyai julukan “Orang yang mati kelaparan”, karena pada suatu ketika ayahnya  memasuki sebuah goa hanya untuk berteduh di dalamnya dari cuaca panas, tetapi malang baginya tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari atas gunung dan menutupi mulut goa, yang menyebabkan ayahnya mati kelaparan di dalamnya. Mengenai kejadian itu, juhunnam seorang penyair membuat sebuah puisi hija’ (sindiran) untuk ayahnya yaitu:
“Ayahmu Qais bin Jundul mati kelaparan, kemudian pamanmu itu disusui oleh budak dari Khuma’ah”.
Khuma’ah adalah tempat kelahiran ibu dari al-A’sya. Saudara kakeknya, Musayyub bin ‘Alas mempunyai jasa yang besar dalam mengabadikan puisi al-A’sya.
Para ahli sastra Arab menganggapnya sebagai orang keempat setelah ketiga penyair yang telah disebutkan di atas. Penyair ini ditakuti akan ketajaman lidahnya, sebaliknya ia juga disenangi orang bila ia telah memuji seseorang, dan orang itu seketika itu pula akan menjadi terkenal.
Puisi-puisi al-A’sya banyak menceritakan pengembaraannya ke sebagian daerah jazirah Arab untuk memuji para pemimpin (kepala suku) dan para bangsawan. Sehingga di dalam diwan-nya (kumpulan puisi), dia banyak memuji Aswad bin Mundzir dan saundaranya yaitu Nu’man bin Mundzir dan Iyas bin Qubaisah. Dia juga banyak membicarakan mengenai perdamaian antara salah seorang penguasa di Yaman dengan bani Abdul Madin bin Diyan di Najran, dan penguasa yang bernama Hauzah bin ‘Ala Sayid dari bani Hanifah, yang tidak diketahui latar belakang mengenai perselisihan di antara ketiganya.
al-A’sya sering melakukan pengembaraan dan mengunjungi kawasan Hirah, Yaman, dan Diyar (sebuah daerah berbukit di Yaman), dan Najran, begitu pula dengan daerah Syam, Persia, dan Jerussalem. Khususnya di daerah Yaman, Nejed, dan Hirah, ia memuji para pejabat teras di sana. Begitu pula dengan kepergiaannya ke Diyar, ia mendapatkan hadiah sebagai balasan atas puisi-puisi yang telah diucapkannya dengan indah kepada bani ‘Amr.
Louis seorang orientalis barat, menganggap bahwa penyair ini penganut Nasrani, ia berpendapat dengan kesukaan al-A’sya dalam menyusun lagu-lagu rohani. Puisi madah-nya banyak memuji para uskup Najran, dan kebanyakan bait-bait puisi-nya berkaitan dengan orang-orang nasrani di Hirah. Namun, hal ini tidak dapat dibenarkan, karena kepercayaan Nasrani telah lama dianut dan merupakan agama nenek moyang. Sehingga setelah ia menerima ajaran ini, kebiasaan buruk dalam melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan telah ada pada diri al-A’sya. Hal ini dapat dilihat jelas dalam puisi-nya yang banyak menggambarkan kesenangannya akan mabuk-mabukkan dan pencinta harta. Dan untuk meneliti lebih lanjut tentang puisi al-A’sya dapat dilihat dalam kitab Sy’ir was Syuara’ karya Ibnu al-Qutaibah, kitab al-Jamhara, dan kitab al-Aghany karya al-Asfahany.

Puisi-Puisinya
Kumpulan puisi al-A’sya banyak diterbitkan oleh Jayir di London pada tahun 1928. Jayir menyalinnya dari Isykuriyal yang diambil dari Tsa’labah pada tahun 291 H. Sebagian dari puisi-nya juga diterbitkan oleh Daar al-Kutub, Mesir. Jumlah kasidahnya tidak kurang dari 77 bait kasidah, ditambah lagi l15 kasidah yang tidak diketahui asalnya, tetapi diyakini sebagai puisinya. Namun, kemungkinan besar puisi pilihan itu dikumpulkan oleh Tsa’labah. Selanjutnya Daar al-Kutub menemukan 40 bait kasidah al-A’sya yang diambil dari salinan di kantor perwakilan Yaman. Hal ini diketahui dari kalimat pendahuluan oleh penyusun diwan-nya.
Puisi-puisi al-A’sya memiliki ciri khas tersendiri, seperti pemakaian kasidah yang panjang, sebagaimana yang terlihat dalam puisinya terdapat pemborosan kata-kata. Puisinya banyak mengandung pujian, sindiran atau ejekan, kemegahan atau kebesaran, kenikmatan khamr (arak), menggambarkan atau melukisakan sesuatu, dan mengenai percintaan.
Tidak seperti penyair lainnya, dalam hal pengungkapan puisi madah, al-A’sya hanya ingin berusaha mendapatkan pemberian atau hadiah, seperti dalam pengembaraannya kesebagian jazirah Arab, yaitu untuk memuji para pemimpin dan pejabat di sana. Pemberian atau hadiah itu dapat berupa unta, budak perempuan, piring yang terbuat dari logam perak, atau pakaian yang terbuat dari kain sutera yang bermotif lukisan.
Dalam puisi madah-nya banyak mengisahkan mengenai kemuliaan, keberanian, kesetiaan, pertolongan terhadap kaum lemah, dan pujian terhadap tentara yang berlaga di medan peperangan. Puisi madah-nya banyak mengandung ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan secara bebas (spontanitas). Oleh karena itu, al-A’sya juga ditakuti akan ketajaman lidahnya, karena bila seseorang telah mendapatkan pujian darinya, maka orang itu akan enjadi terkenal.
Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang miskin yang bernama Muhallik, orang itu mempunyai tiga orang puteri yang belum mempunyai jodoh dikarenakan kemiskinan mereka. Pada suatu waktu, keluarga ini mendengar kedatangan al-A’sya di Mekkah, maka isterinya meminta kepada suaminya untuk mengundang al-A’sya ke rumahnya. Setelah al-A’sya datang ke rumah miskin itu, maka isterinya memotong seekor unta untuk menjamu al-A’sya. Penyair ini sangat heran dengan kedermawanan orang miskin ini. Ketika ia keluar dari rumah itu, ia langsung pergi ke tempat orang-orang yang sedang berkumpul untuk mengabadikan kedermawanan Muhallik dalam suatu bait puisinya yang sangat indah. Setelah ia membacakan puisi itu, maka banyak orang yang datang meminang ketiga puteri Muhallik. Adapun bait puisi yang diucapkan al-A’sya seperti dibawah ini[1]:
ارقت وما هذا السّهاد والمؤرّق  ¤  وما بى من سقم وما بى تعشّق
لعمرى قد لاحت عيون كثيرة  ¤  الى ضوء نار فى اليفاع تحرق
تشبّ لمقرورين يصطليانها  ¤  وبات على النار الندى والمحلّق
رضيعى لبان ثدى أمّ تقاسما  ¤  باسحم داج : عوض لا نتفرّق
ترى الجود يجرى ظاهرا فوق وجهه  ¤  كما زان متن الهند وإنى رونق
يداه يدا صدق : فكفّ مبيدة  ¤  وكفّ إذا ما ضنّ بالمال ينفق
“Aku tidak dapat tidur di malam hari, bukan karena sakit ataupun cinta”
“Sungguh banyak mata yang melihat api yang menyala di atas bukit itu”
“Api itu dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kedua orang yang sedang kedinginan di malam itu, dan di tempat itulah Muhallik dan kedermawanannya sedang bermalam”
“Di malam yang gelap itu keduanya saling berjanji untuk tetap bersatu”
“Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan”
“Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang lain untuk berderma”
Di dalam suatu riwayat lain juga diceritakan bahwa ketika al-A’sya mendengar diutusnya Nabi Muhammad Saw dan berita mengenai kedermawanannya, maka penyair ini sengaja datang ke kota Mekkah dengan membawa suatu kasidah yang telah dipersiapkan untuk memuji Nabi Muhammad Saw. Namun, sayang sekali maksud baik ini dapat digagalkan oleh pemuka bangsa Quraisy.
Ketika Abu Sufyan mendengar kedatangan al-A’sya, Abu Sufyan langsung berkata kepada para pemuka Quraisy: “Demi Tuhan, bila al-A’sya bertemu dengan Muhammad dan memujinya, maka pasti dia akan mempengaruhi bangsa Arab untuk mengikuti Muhammad. Karena itu, sebelum itu terjadi, kumpulkanlah seratus ekor unta dan berikan kepadanya agar tidak pergi menemui Muhammad”. Kemudian, saran Abu Sufyan ini, dituruti oleh bangsa Quraisy, yang akhirnya al-A’sya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan beliau. Adapun puisi yang telah dipersiapkan olehnya untuk memuji Nabi Muhammad Saw. seperti dibawah ini[2]:
فآليت لا ارثى لها من كلالة  ¤  ولا من حفى حتّى تلاقى محمدا
متى ما تناخى عند باب ابن هاشم  ¤  تراخى وتلقى من فواضله ندى
نبىّ يرى ما لا يرون وذكره  ¤  اغار (لعمرى) فى البلاد وانجدا
له صدقات ما تغب ونائل  ¤  وليس عطاء اليوم يمنعه غدا
 ”Demi Allah, onta ini tidak akan aku kasihani dari keletihannya, dan dari sakit kakinya sebelum dapat bertemu dengan Muhammad”
“Nanti jika kau telah sampai ke pintu Ibnu Hasyim, kau akan dapat beristirahat dan akan mendapatkan pemberiannya yang berlimpah-limpah”
“Seorang Nabi yang dapat mengetahui sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mereka, dan namanya telah tersiar di seluruh negeri dan di daerah Nejed”
“Pemberiannya tidak akan terputus selamanya, dan pemberiaannya sekarang tidak akan mencegah pemberiannya di hari esok” 
THARAFAH BIN ABDUL BAKRI AL-WA’ILLI

Nasab Keluarga Dan Kabilah
Amru bin al-`Abd al-Bakri adalah salah seorang tokoh terkemuka pada zaman Jahiliyyah, dan berumur pendek. Ia juga seorang penyair yang memiliki puisi-puisi panjang dan indah, dan yang paling bagus dalam melukiskan unta dalam puisinya. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih kecil, kemudian ia diasuh oleh para pamannya. Ia cenderung melakukan hal-hal yang buruk, hidup berfoya-foya, dan suka mengambil hak milik orang lain, sehingga keluarga dan kaumnya mencercanya, bahkan Amru bin Hindun salah seorang raja Arab yang memimpin kerajaan Hirah pun ikut mencercanya, meskipun ia mencari kebajikan dan pemberian raja tersebut.
Sampailah berita kepada Amru bin Hindun tentang cercaan Tharafah kepadanya, maka Amru bin Hindun pun membencinya. Ketika Tharafah datang kepadanya bersama pamannya, al-Multamis, untuk meminta hadiah, sementara Amru bin Hindun telah mendapat kabar tentang al-Multamis seperti kabar tentang Tharafah.
Akan tetapi, agar kebencian Amru bin Hindun tetap memperlihatkan sikap ceria dan kesukaan mereka keduanya. untuk menenangkan mereka berdua dan memerintahkan kepada masing-masing mereka diberi hadiah. Sang raja menulis surat untuk masing-masing mereka yang ditujukan kepada Gubenur Bahrain untuk melaksanakan isi surat itu. Ketika keduanya dalam perjalanan menuju Bahrain, al-Multamis merasa curiga dengan surat itu, lalu ia menghentikan perjalanannya dan meminta salah seorang budak untuk membacakan isi surat itu. Namun, Tharafah tidak mau berhenti, ia terus melanjutkan perjalanannya. Setelah dibuka ternyata isi surat itu adalah perintah kepada Gubenur Bahrain untuk membunuh mereka berdua. Al-Multamis melemparkan surat itu dan bermaksud menyusul Tharafah, tetapi tidak dapat tersusul, lalu ia melarikan diri dan meminta perlindungan kepada raja Ghassan. Sementara itu, Tharafah terus melanjutkan perjalanannya untuk menjumpai Gubenur Bahrain. Di sanalah ia terbunuh dalam usia sekitar dua puluh lima tahun.
Puisi-Puisinya
Tharafah menciptakan puisi sejak ia masih kanak-kanak dan dia muncul dalam bidang itu sehingga dalam usia belum mencapai dua puluh tahun ia sudah terhitung sebagai tokoh penyair terkemuka. Puisi panjangnya yang melukiskan unta uang terdiri dari 35 bait, merupakan puisi yang belum pernah ada seorang penyair pun yang menciptakan puisi seperti itu sebelumnya. Mu’allaqat-nya termasuk mu’allaqat yang paling indah, paling banyak memuat kata-kata unik, sarat dengan makna, dan tepat dalam penempatan kata (diksi). Diriwayatkan pula selain mu’allaqat, puisinya ada berbentuk lain, tetapi sangat sedikit bila dibandingkan dengan populeritasnya. Kiranya hal ini menunjukkan kepada kenyataan bahwa perawi itu tidak mengetahui lebih banyak mengenai puisinya atau dengan kata lain mereka (para perawi) kehilangan jejak dari kebanyakan puisi Tharafah.
Tharafah bagus sekali ketika memaparkan washf dalam puisinya, dengan singkat dan menjelaskan hakekat dengan tujuan yang melampaui batas, terikat dalam sebagian susunan kata dan lepas bebas dalam penjelasan kata dan makna yang tersembunyi. Demikian pula puisi hija’-nya (cercaan) nadanya keras sekali. Bait puisi mu’allaqat-nya adalah:
لخولة أطلال ببرقة ثهمد  ¤  تلوح كباقى الوشم فى ظاهر اليد
 ”Untuk mengenang Khaulah ada reruntuhan di tanah berbatuan Tsahmada yang menyembul bagai kulit mengeras di permukaan telapak tangan”
Di antara bait-bait puisinya yang paling indah adalah:
أرى الموت يعتام الكرام ويصطفى  ¤  عقيلة مال الفاحش المتشدد
ألاى العيش كنـزا ناقصا كل ليلة  ¤  وما تنقص الأيام والدهر ينفد
لعمرك إن الموت (ما أخطأ الفتى)  ¤  لكالطول المرخى وثنياه باليد
متى ما يشأ يوما يقده لحتفه  ¤  ومن يك فى حبل المنية ينقد
“Aku melihat sang maut memilih orang mulia sejati, juga memilih orang mulia karena harta yang dia dapatkan melalui perbuatan jahat dan kejam”
“Aku lihat kehidupan adalah harta simpanan yang terus berkurang setiap malam”
“Demi Tuhan pemberi usiamu, sungguh sang maut itu (tidak akan menerkam pemuda) sungguh, dia bagaikan tali pengikat binatang yang salah satu ujungnya di genggaman tangan”
“Di suatu hari, kapan saja dia mau, dia akan menyeretmu, barang siapa dalam ikatan kematian, dia pasti akan mati”
Di antara bait-bait puisinya yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat adalah:
وظلم ذوى القربى أشد مضاضة  ¤  على المرء من وقع الحسام المهند
أرى الموت أعداد النفوس ولا أرى  ¤  بعيدا غدا ما أقرب اليوم من غد
ستبدى لك الأيام ما كنت جاهلا  ¤  ويأتيك بالأخبار من لم تزود
“Orang yang mendzalimi kerabat dekat lebih jahat daripada tusukan panah beracun”
“Kulihat sang maut merenggut jiwa-jiwa dan esok hari tidak kulihat sebagai saat yang jauh, betapa dekatnya hari ini dari hari esok”
“Hari-hari akan memperlihatkan kepadamu apa yang dulu kau tidak ketahuim, akan datang kepadamu dengan membawa berbagai berita
قد يبعث الأمر الصغير كبيره  ¤  حتى تظل له الدماء تصبب
 ”Kadang kala persoalan kecil tumbuh menjadi besar, hingga karenanya darah pun terus mengucur”
Di antara puisi-puisi fakhr-nya adalah:
نحن فى المشتاة ندعو الجفلى  ¤  لا ترى الآدب فينا ينتقر
حين قال الناس فى مجلسهم  ¤  أقتار ذاك أم ريح قطر
بجفان تعترى نادينا  ¤  من سديف حين هاج الصنبر
كالجوانى لاتنى مترعة  ¤  لقرى الأضياف أو للمتحضر
ثم لا لا يخزن فينا لحمها  ¤  إنما يخزن لحم المدخر
ولقد تعلم بكر أننا  ¤  آفة الجزر مساميح يسر
ولقد تعلم بكر أننا  ¤  فاضلو الرأى وفى الروع وقر
يكشفون الضر عن ذى ضرهم  ¤  ويبرون على الآبى المبر
فضل أحلامهم عن جارهم  ¤  رحب الأذرع بالخير أمر
ذلق فى غارة مسفوحة  ¤  ولدى البأس حماة ما نفر
نمسك الخيل على مكروهها  ¤  حين لا يمسكها إلا الصير
“Di musim paceklik, kami mengundang semua orang ke perjamuan, dan kamu tidak akan melihat para pejamu dari kami memilih-milih orang yang diundang”
“Di kala orang-orang berkata di tempat duduk mereka, apakah ini aroma daging bakar atau harum kayu cendana?”
“Kami tahu dan anggota perkumpulan kami pada datang mengerumuni perapian berminyak lemak kala dingin kian menusuk”
“Bagaikan telaga besar yang airnya terus mengalir untuk memuliakan para tamu atau untuk orang-orang yang hadir bersama kami”
“Lalu daging-daging itu tidaklah kami simpan yang disimpan hanyalah daging yang dikeringkan”
“Kabilah Bakr sungguh telah tahu bahwa kami mudah menyembelih kambing dan mudah berderma”
“Kabilah Bakr sungguh telah bahwa kami mengutamakan akal, sehingga dalam menghadapi bencana tidak terguncang”
“Kami dapat menyingkap bencana dari mereka yang dihimpit oleh kesulitan dan kami mampu mengalahkan orang-orang yang sebelumnya tidak terkalahkan”
“Mimpi-mimpi mereka lebih unggul daripada tetangga mereka tangannya luas dengan berbagai kebajikan”
“Bersegera menghunus pedang maju ke medan perang untuk menumpahkan darah, menghadapi keganasan medan perang tetap tegar tidak melakukan desersi”
“Memegang teguh kendali kuda, walaupun kuda itu menjadi semakin liar, yang mampu mengendalikannya saat itu hanyalah orang-orang yang tangguh”
‘AMR BIN KULTSUM

Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkapnya adalah Abu al-Aswad ‘Amr bin Kultsum bin Malik at-Taghlibi dari kabilah Taghlib. Lahir dari kalangan keluarga bangsawan dan juga sangat ahli dalam menunggang kuda. Penyair ini merupakan seorang tokoh Arab dan penyair yang terkenal dengan puisinya yang tersendiri dan yang bagus sekali dalam puisi fakhr-nya. Ibunya bernama Laila binti Muhalhil, saudara Kulaib.
Di dalam lingkungan kabilah Taghlib di Jazirah Euphrat, Amru tumbuh dan berkembang sebagai sosok yang pemberani dan penuh semangat serta sebagai orator yang memiliki sifat-sifat mulia. Dia telah menjadi pemimpin kaumnya dalam usia lima belas tahun, dan memimpin pasukan perangnya yang selalu mendapatkan kemenangan dalam berbagai peperangan mereka.
Kebanyakan kekacauan dan peperangan yang dihadapi kabilah Taghlib adalah peperangan dalam menghadapi saudaranya sendiri, yaitu kabilah Bakr bin Wail yang menyebabkan terjadinya peperangan sengit yang terkenal dengan al-Basus. Perdamaian terakhir mereka adalah di tangan Amru bin Kultsum. Raja Hirah terakhir dari keluarga al-Mundzir. Tidak selang beberapa lama setelah perjanjian perdamaian terwujud, terjadilah perhelatan dan pesta besar di tempat Amru bin Kultsum, yang dalam acara itu para penyair kabilah Bakr, yaitu Al-Harist bin Hiliziah mendendangkan puisi terkenalnya.
Begitu selesai acara tersebut, tampaklah bagi Amru bin Kultsum bahwa Ibnu Hindun mengincar kerajaan bersama kabilah Bakr. Amru bin Kultsum pun pulang dengan hati penuh kecurigaan. Kemudian terbetiklah dalam hati Ibnu Hindun untuk memecah belah kekuatan kabilah Taghlib dengan menghinakan pemimpinnya, yaitu Amru bin Kultsum. Kemudian Ibnu Hindun mengundang Amru bin Kultsum dan ibunya, Laila binti Muhalhil, dan mengelabui ibunya untuk membantunya dalam menyelesaikan salah satu urusannya. Laila berteriak: “Oh, alangkah hinanya!”. Teriakan ibunya itu membuat Amru bin Kultsum marah dan seketika itu juga ia membunuh Ibnu Hindun di Majelis pertemuannya. Selanjutnya Amru bin Kultsum segera pergi, kembali ke negerinya di al-Jazirah, dan menyusun mu’allaqat-nya, yang bait awalnya berbunyi:
ألا هبى بصحتك فاصبحينا  ¤  ولا تبقى خمور الأندرينا
“Ingatlah, hidangkan gelas anggurmu, kita minum di pagi hari ini dan tidak menyisakan sedikit pun khamr (arak) buatan Andarina”
Dalam mu’allaqat-nya ia melukiskan peristiwa mengenai dirinya dengan Ibnu Hindun, ia membanggakan pertempuran-pertempuran kaumnya dan peperangan-peperangan mereka yang terkenal. Ia juga berorasi di pasar Ukadz dan pasar-pasar lainnya. Anak keturunan Taghlib banyak yang menghafal puisinya dan banyak orang yang meriwayatkannya. Amru bin Kultsum meninggal dunia sekitar setengah abad sebelum lahirnya Islam.
Puisi-Puisinya
Amru bin Kultsum termasuk orang besar, bangsawan, dan pahlawan bangsa Arab Jahiliyyah yang lebih disibukkan dengan tugas-tugasnya sebagai pemimpin dan terjun di medan peperangan daripada berkonsentrasi untuk berpuisi dan membuka pintu-pintunya seperti kebiasaan para penyair yang menjadikan puisi-puisi mereka sebagai profesi dan bisnis dalam mencari kekayaan. Oleh karena itu, Amru bin Kultsum tidak terkenal kecuali dengan satu mu’allaqat-nya, yang menduduki posisi sebagai puisi yang memenuhi persyaratan, karena kata-katanya indah, komposisi ungkapannya begitu rapi, maknanya jelas, stil bahasanya mempesona, dan kebanggannya tinggi dan tujunnya agung. Andaikan di dalam puisinya ia tidak membanggakan dan tidak menyebut-nyebut warisan peninggalan kaumnya, puisinya tidak akan diingat orang.
Di riwayatkan juga puisi-puisi muqaththa’at (puisi-puisi pendek)-nya yang tujuannya tidak jauh berbeda dengan tujuan-tujuan mu’allaqat-nya. Kiranya populeritasnya dengan orasi tidaklah kurang dari populeritasnya dengan puisi. Di antara puisi fakhr-nya yang tinggi dalam mu’allaqat-nya adalah:

وقد علم القبائل من معد  ¤  إذا قبب بأبطحها بنينا
بأن المطعمون إذا قدرنا  ¤  وأنا المهلكون إذا ابتلينا
وأنا المانعون لما أردنا  ¤  وأنا النازلون بحيث شينا
وأنا التاركون إذا سخطنا  ¤  وأنا الآخذون إذا رضينا
ونشرب إن وردنا الماء صفوا  ¤  ويشرب غيرنا كدرا وطينا
إذا ما الملك سام الناس خسفا  ¤  أبينا أن نقر الذل فينا
لنا الدنيا ومن أمسى عليها  ¤  ونبطش حين نبطش قادرينا
بغاة ظالمين وما ظلمنا  ¤  ولكنا سنبدأ ظالمينا
ملأنا البرّ حتى ضاق عنا  ¤  ونحن البحر نملؤه سفينا
إذا بلغ الرضيع لنا فطاما  ¤  تخر له الجبابر ساجدينا
 ”Kabilah-kabilah telah mengetahui siapa yang berbahagia, jika berkemah di dataran luas kami pun membangun perkemahan”
“Bahwa kami adalah orang-orang yang bisa makan, bila kami mampu mendapatkan makanan”
“Dan kami adalah orang-orang yang porak-poranda, bila kami tak henti dihantam bencana”
“Kami adalah orang-orang yang mampu menahan diri, tidak sembarangan menggapai apa yang kami kehendaki, dan kami adalah orang-orang yang tinggal dimana kami suka,
“Dan kami adalah orang-orang yang meninggalkan sesuatu bila kami tidak suka, dan kami adalah orang-orang yang mengambil bila kami memang suka”
“Kami minum bila menemukan sumber air yang jernih, sedangkan selain kami mau minum dari air yang keruh bercampur tanah”
“Jika seorang raja mengungguli manusia dengan perbuatan rendah, maka kami akan menolak dan tidak membiarkan diri kami berbuat rendah”
“Kami memiliki dunia dengan semua orang yang berada di atasnya, kami berkuasa ketika kami mampu menguasai”
“Orang-orang dzalim berbuat kejam dan kami tidak mau mendzalimi, tetapi kami akan mulai melawan orang-orang yang mendzalimi kami”
“Kami telah memenuhi daratan sehingga kami merasa sesak terjepit, dan kami memenuhi lautan dengan perahu-perahu kami”
“Bila bayi di kalangan kami mencapi usia dipisah dari menyusuinya, orang-orang perkasa pilihan pada tersungkur bersujud padanya”
Amru bin Kultsum berkata mengancam Amru bin Hujr al-Ghassani:
ألا فاعلم (أبيت اللعن) أنا  ¤  على عمد سنأتى ما نريد
تعلم أن محملنا ثقيل  ¤  وأن ذياد كبتنا شديد
وأنا ليس حتى من معد  ¤  يوازننا إذا لبس الحديد
 ”Ingatlah dan ketahuilah (kau tak akan mau melakukan sesuatu perbuatan yang membuat kau dikutuk orang) dan sesungguhnya kami, kapan pun kami mau akan sengaja datang”
“Kau tahu bahwa pelana kami sangatlah berat, dan serangan pasukan kami sangatlah kuat”
“Dan bahwasanya kami tidak hidup dari persiapan yang kami pertimbangkan bila baju besi dikenakan”
Amr bin Kultsum berkata dalam puisinya di bawah ini[1]:
بأيّ مشيئة عمرو بن هند  ¤  نكون لقيل لقيلكم فيها قطينا
بأيّ مشيئة عمرو بن هند  ¤  تطيع بنا الوشاة وتزدرينا

 ”Wahai Amr bin Hindin, mana mungkin kami mau menjadi pelayan para pembantumu”
“Wahai Amr bin Hindin, mana mungkin kami mau taat kepada orang-orang hina, dan engkau sendiri telah mengetahui siapa kami”
Puisi di atas diucapkan oleh Amr bin Kultsum kepada Amr bin Hindin, seorang raja yang zalim dan sombong. Ia menghina ibu amr bin Kultsum dengan menjadikan ibunya sebagai pelayan ibu Amr bin Hindin, sehingga Amr bin Kultsum marah dan membunuhnya dengan sebilah pedang. Dalam puisinya di bawah ini[2]:
إذا بلغ الفطام لنا صبيّ  ¤  تخرّ له الجبابر ساجدينا
 ”Apabila anak kita sudah sampai waktu penyapihan (berhenti menyusu), maka orang-orang besar dan sombong akan tunduk sujud kepadanya”
ANTARAH BIN SYADDAD AL-ABSI


Nasab Keluarga Dan Kabilah
Penyair ini dilahirkan dari ayah seorang bangsawan Absi dan ibu dari kalangan budak Habsyi. Ia mewarisi kulit hitam dari ibunya, sehingga orang mengira ia bukan berdarah Arab, bibirnya terbelah (memble) seperti ibunya, sehingga orang sering memanggilnya dengan julukan Antarah al-Falha’u yaitu “Antarah si bibir memble”. Dalam adat-istiadat Jahiliyyah, anak yang terlahir dari ibu seorang budak, tidak akan mendapatkan pengakuan dari sang ayah, kecuali dia dapat memiliki sifat mulia berupa kedermawanan dan keberanian. Oleh karena itu, ayah penyair ini tidak mau mengakuinya sebagai anak kandung, bahkan menganggapnya sebagai seorang budak yang dapat disuruh untuk mengembala ternak. Perlakuan ayahnya itu, telah membuat hati penyair ini sangat tertekan. Bahkan pamannya sendiri telah ikut menghalangi puteri yang bernama Ablah untuk bercinta dengannya, sebab pamannya menganggap bahwa tidaklah pantas mengawinkan puterinya dengan seorang anak budak.
Tekanan-tekanan psikologis itu telah membuatnya keras terhadap semua orang, bahkan terhadap ayahnya sendiri. Kebenciaannya terhadap sang ayah, terlihat ketika ayahnya memerintahkannya untuk berperang melawan musuh yang datang menyerbu, mendengar ajakan ayahnya itu, ia berkata[1]:
“Sesungguhnya seorang budak tidaklah layak untuk berperang, tetapi hanya layak untuk menjaga ternah dan memerah susu saja”.

Ucapan Antarah tersebut dirasakan oleh ayahnya sebagai penderitaan batin seorang anak, maka setelah mendengar ucapannya itu, akhirnya sang ayah mengakuinya sebagai anak, dengan berkata: “Berperanglah kamu, karena sesungguhnya kamu adalah seorang yang merdeka (bukan lagi seorang budak)”. Dan sejak saat itu nama nasab orang tuanya selalu diikutkan dengan nama asli penyair ini. Dan sejak itu pula nama penyair ini selalu disebut orang dalam segala macam pertempuran.
Keberanian Antarah mengilhami keberanian orang Arab dalam berperang di dalam maupun di luar jazirah Arab, seperti ketika melawan Romawi, Ethopia, Iran, Perancis, Afrika Utara, dan Andalus melawan tentara Salib. Bahkan dengan namanya yang agak terdengar angker, penyair ini lebih dikenal sebagai seorang pahlawan yang amat ditakuti oleh lawan-lawannya. Sehingga pribadi penyair ini, kelak pada masa Daulat Fatimiyyah, sering diagungkan dengan penulisan kisah kepahlawanan yang dinisbatkan kepada pribadi penyair ini.
Puisi-Puisinya
Pada mulanya penyair ini tidak terkenal sebagai penayir ulung, tetapi untungnya sejak muda penyair ini telah menyimpan bakat untuk berpuisi. Dan bakat inilah yang mendorong untuk meningkatkan prestasinya dalam berpuisi. Kebanyakan puisinya dikumpulkan dalam mu’allaqadnya yang sangat panjang.
Adapun penyebab yang mendorongnya untuk mencipatakan mu’allaqadnya adalah bahwa pada suatu hari penyair ini diejek orang di majelis ayahnya setelah diakuinya sebagai anak oleh ayahnya, di mana ia diejek dari keturunan ibunya yang merupakan seorang budak, sehingga membuatnya marah dan berkata:
“إنى لاحضر البأس واوفى المغنم واعفّ عند المسئلة واجود بما ملكت يدى وأفصّل الخطة والصّماء, قال له الرجل : “أنا أشعر منك” قال: “ستعلم ذلك” 
“Aku adalah seorang yang gemar menghadiri pertempuran, aku adalah orang yang paling adil, dan aku tidak pernah meminta dan aku selalu dermawan dengan yang kumiliki dan aku adalah pembuka jalan buntu. Orang yang menejeknya berkata: “Aku lebih fasih dalam berpuisi daripada kamu”. Lalu Antarah berkata: “Akan kamu lihat kelak kefasihanku!”
Sejak saat itu, Antarah mulai merangkum kasidah mu’allaqadnya yang mengisahkan percintaan dengan kekasihnya yang bernama Ablah. Selain itu, ia juga mengisahkan tentang keberanian dan keagungan dirinya dalam medan pertempuran.
Para ahli sastra Arab menggolongkan puisi Antarah ke dalam kelas tertinggi dalam menggambarkan dan mensifati segala kejadian yang dialaminya. Dalam salah sati bait puisinya, penyair ini menerangkan kepada kekasihnya bahwa ia adalah seorang yang baik bila ia tidak diganggu dan dirampas miliknya. Akan tetapi, jika ia diganggu, maka ia akan membalas perbuatan orang itu dengan kekerasan yang dapat dijadikan pelajaran selama hidup orang yang menggangunya. Seperti contoh di bawah ini[2]:

اثنى عليّ بما علمت فإننى  ¤  سمح مخالفتى اذا لم اظلم
واذا أظلمت فإنى ظلمى باسل  ¤  مرّ مذاقته كطعم العلقم
“Pujilah aku (wahai kekasihku) dari apa yang kamu ketahui dari kelakuan baikku. Sesungguhnya aku adalah seorang yang lemah lembut bila tidak dizalimi oleh siapa pun”
“Namun, jika aku dizalimi oleh seseorang, maka aku akan membalasnya dengan balasan yang lebih keras dari kezalimannya”
Selain itu penyair ini mempunyai sifat dermawan kepada siapa pun, karena sifat inilah yang paling disukai oleh bangsa Arab dan selalu dibanggakan. Dalam hal ini penyair ini menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang yang sangat dermawan dan suka menolong orang lain walaupun itu dalam keadaan yang tidak sadar, seperti dalam keadaan mabuk, yang mana biasanya dalam keadaan seperti itu tidak mungkin seorang akan berlaku baik ataupun berderma. Namun, penyair ini masih tetap bisa melakukan kebaikan dan berderma walaupun dalam keadaan mabuk, hal itu dapat dilihat dari bait puisinya di bawah ini[3]:
فإذا شربت فإننى مستهلك  ¤  مالى وعرضى وافر لم يكلم
وإذا صحوت فما أقصّر عن ندى  ¤  وكما علمت شمائلى وتكرّمى
“Jika aku sedang minum arak, maka aku akan menghabiskan seluruh hartaku untuk menjamu kawan-kawanku, dan hal itu tidak akan merusak kehormatanku”
“Dan jika aku telah sadar dari mabukku, maka aku akan menghamburkan hartaku untuk berderma, sebagaimana telah kamu ketahui akan budi perkerti baikku ini (berbanggalah wahai kekasihku dengan segala budi pekertiku seperti ini)”

Antarah selain terkenal sebagai penyair ulung, juga terkenal sebagai seorang pahlawan yang gagah berani di medan peperangan. Gambaran akan kegagahannya dalam berperang dapat dilihat dalam bait puisi di bawah ini[4]:

هلاّ سألت الخيل ياابنة ملك  ¤  إن كنت جاهلة بما لم تعلمى
إذ لا أزال على رحالة سابح  ¤  نهد تعاوره الكماة مكلّم
طورا يجرّد للطّعان وتارة  ¤  يأوى إلى حصد القسىّ عرمرم
يخبرك من شهد الوقيعة أنّنى  ¤  اغشى الوغى واعفّ عند المغنم
ومدجّج كره الكماة نزاله  ¤  لا ممعن هربا ولا مستسلم
جادت له كفّى بعاجل طعنة  ¤  بمثقّف صدق الكعوب مقوّم
فشككت بالرّمح الأصمّ ثيابه  ¤  ليس الكريم على القنا بمحرّم
فتركته جزر السّباع ينشنه  ¤  يقضمن حسن بنائه والمعصم
“Wahai puteri Malik, tidakkah engkau tanyakan kepada ksatria itu tentang diriku di medan peperangan, jika engkau  tidak tahu?”
“Tidakkah engkau tanyakan kepada ksatria itu tentang diriku ketika aku sedang berada di atas kuda yang dilukai oleh musuh?”
“Ada kalanya aku bawa kuda itu untuk menyerang musuh, namun adakalanya aku membawa kudaku untuk bergabung dengan pasukan yang banyak”
“Jika kamu bertanya tentang diriku pada orang yang hadir dalam peperangan itu, maka mereka akan memberitahukan kepadamu bahwa aku adalah orang yang selalu maju (berada di depan) dalam setiap peperangan dan aku orang yang tidak tamak dalam pembagian rampasan perang”
“Adakalanya ada ksatria yang berani dan sangat ditakuti oleh musuhnya dan tidak mau menyerah”
“Namun tanganku buru-buru menerkamnya dengan tusukan tombak yang kuat”
“Dan ketika ksatria itu aku tusuk dengan tombak yang keras, yang dapat menembus baju jirahnya. Dan orang bangsawan pun tidak mustahil untuk terbunuh”
“Setelah ksatria itu terbunuh, maka aku tinggalkan begitu saja agar menjadi santapan binatang buas yang akan menghancurkan jari tangan dan lengannya yang bagus itu”

Sebenarnya kita masih dapat mengikuti puisinya yang menerangkan keagungan pribadi penyair ini, untuk itu dapat kita lihat dalam kasidah al-Mu’allaqat-nya yang panjang.

ZUHAIR BIN ABI SULMA

Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkapnya adalah Zuhair bin Abi Sulma bin Rabi’ah bin Rayyah al-Muzani. Ayahnya bernama Rabi’ah yang berasal dari kabilah Muzainah. Pada zaman Jahiliyyah kabilah ini hidup berdekatan dengan kabilah bani Abdullah Ghatafaniyyah yang menghuni di daerah Hajir, Nejed, sebelah timur kota Madinah. Kabilah ini juga bertetangga dengan kabilah Bani Murrah bin Auf bin Saad bin Zubyan. Ia adalah salah seorang dari tiga serangkai dari penyair Jahiliyyah setelah Umru al-Qais dan An-Nabighah az-Zibyani. Penyair ini amat terkenal karena kesopanan kata-kata puisinya. Pemikirannya banyak mengandung hikmah dan nasehat. Sehingga banyak orang yang menjadikan puisi-puisinya itu sebagai contoh hikmah dan nasehat yang bijaksana.
Rabi’ah bersama isteri dan anak-anaknya tinggal dalam lingkungan kabilah Bani Murrah (kabilah Zubyan) dan kabilah Bani Abdullah Ghatafaniyyah. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Aus bin Hujr, seorang penyair terkenal dari Bani Tamim. Sementara Zuhair dan saudara-saudaranya, Sulma dan al-Khansa`, diasuh oleh Basyamah bin al-Ghadir, paman mereka yang juga seorang penyair. Dengan demikian Zuhair adalah keturunan kabilah Muzainah yang dibesarkan di tengah-tengah kabilah Bani Ghatafaniyyah.
Dibesarkan Dalam Lingkungan Penyair  
Zuhair dibesarkan dalam keluarga penyair dan sejak kecil ia belajar puisi dari pamannya sendiri yang bernama Basyamah bin al-Ghadir dan Aus bin Hujur. Basyamah termasuk tokoh Arab Jahiliyyah yang terhormat, kaya-raya, dan sangat dihormati oleh kaumnya. Di samping sebagai penyair, Basyamah juga seorang yang cerdas dan memiliki pendirian yang lurus, dia menjadi tempat bertanya kaumnya dalam menghadapi berbagai persoalan. Ketika ia meninggal dunia, seluruh hartanya diwariskan kepada keluarganya termasuk kepada Zuhair. Disamping mendapatkan harta warisan, Zuhair juga mendapatkan warisan kemampuan berpuisi dan kemuliaan akhlak yang diajarkan Basyamah.
Zuhair bin Abi Sulma, tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga penyair. Rabi’ah ayahnya, Aus bin Hujr ayah tirinya, dan Basyamah pamannya, mereka ada para penyair, dan saudaranya Sulma dan al-Khansa`, mereka berdua juga penyair. Oleh karena itulah ia sudah terkenal pandai berpuisi sejak kecil. Selain terkenal akan bakat puisi yang dimilikinya sejak kecil, ia juga disenangi oleh seluruh kaumnya akan budi pekertinya yang luhur, sehingga setiap pendapat yang dikeluarkannya selalu diterima baik oleh kaumnya.
Zuhair menikah dengan dua orang wanita, pertama dengan Ummu Aufa, yang banyak disebut-sebut dalam puisinya, termasuk dalam mu’allaqat-nya. Kehidupan rumah tangganya bersama Ummu Aufa kurang bahagia, dan itu terjadi setelah Ummu Aufa melahirkan anak-anaknya yang kesemuanya meninggal dunia, lalu ia pun menceraikannya. Setelah itu ia menikah lagi dengan Kabsyah binti ‘Amr al-Ghatafaniyyah, dan dari isteri keduanya ini lahirlah putera-puteranya, yaitu Ka’ab, Bujair, dan Salim. Salim meninggal dunia ketika Zuhair masih hidup, sehingga banyak dari puisinya yang menggambarkan ratapannya terhadap kematian anaknya itu. Sedangkan Ka’ab dan Bujair, keduanya hidup sampai datangnya masa Islam, dan mereka berdua masuk Islam dan juga menjadi penyair yang terkenal.
Hidup Dalam Situasi Peperangan
Zuhair hidup dalam masa terjadinya peperangan yang berlarut-larut selama 40 tahun antara kabilah Abbas dan Bani Dzubyan, yang terkenal dengan peperangan Dahis dan Gabra’. Dalam peristiwa perang ini, ia pun turut ambil bagian dalam usaha mendamaikan dua suku yang sedang berperang tersebut. Dalam usaha perdamaian itu, ia mengajurkan kepada para pemuka bangsa Arab untuk mengumpulkan dana guna membeli tiga ribu ekor unta untuk membayar tebusan yang dituntut oleh salah satu dari kedua suku yang sedang berperang itu. adapun yang sanggup menanggung keuangan itu adalah dua orang pemuka bangsa Arab yang bernama Haram bin Sinan dan Harits bin Auf. Sehingga berkat usaha kedua orang ini, peperangan yang telah terjadi selama 40 tahun dapat dihentikan. Untuk mengingat kejadian yang amat penting itu, Zuhair mengabadikan dalam salah satu puisi muallaqat-nya, seperti di bawah ini[1]:
فاقسمت بالبيت الذى طاف حوله  ¤ رجال بنوه من قريش وجرهم
يمينا لنعم السيّـــدان وجـدتما  ¤  على كل حال من سحيل ومبرم
تداركتما عبسا وذبيان بعدمــا  ¤  تفانوا ودقوا بينهم عطر منشم
وقد قلتما إن ندرك السلم واسعا  ¤  بمال ومعروف من القول نسلم
فاصبحتما منها على خير موطن  ¤  بعيدين فيها من عقوق ومأثـم
عظيمين فى عليا معدّ هديتمـا  ¤ ومن يستبح كنـزا من المجد يعظم
“Aku bersumpah dengan Ka’bah yang ditawafi oleh anak cucu Quraisy dan Jurhum”.
Aku bersumpah, bahwa kedua orang (yang telah menginfakkan uangnya untuk perdamaian itu) adalah benar-benar pemuka yang mulia, baik bagi orang yang lemah, maupun bagi orang yang perkasa”.
“Sesungguhnya mereka berdua telah dapat kesempatan untuk menghentikan pertumpahan darah antara bani Absin dan Dhubyan, setelah saling berperang diantara mereka”.
“Sesungguhnya mereka bedua telah berkata: “Jika mungkin perdamaian itu dapat diperoleh dengan uang banyak dan perkataan yang baik, maka kami pun juga bersedia untuk berdamai”.
“Sehingga dalam hal ini kamu berdua adalah termasuk orang yang paling mulia, yang dapat menjauhkan kedua suku itu dari permusuhan dan kemusnahan”.
“Kamu berdua telah berhasil mendapatkan perdamaian, walaupun kamu berdua dari kelurga yang mulia, semoga kalian berdua mendapatkan hidayah, dan barang siapa yang mengorbankan kehormatannya pasti dia akan mulia”
Kemunculan Zuhair Sebagai Penyair
Kemunculan Zuhair sebagai penyair tidak lepas dari pengaruh guru-guru utamanya, yaitu Rabi’ah ayahnya, Aus ibn Hujr ayah tirinya, dan Bisyamah pamannya. Dari ketiga penyair itulah Zuhair  didikkan dalam menciptakan puisi. Dia juga meriwayatkan puisi-puisi dari ketiga penyair tersebut. Sebagai seorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga penyair, Zuhair pun kemudian mendedikasikan hidupnya untuk puisi. Dia menciptakan puisi dan mengajarkan penciptaan puisi kepada orang lain, terutama kepada kedua putranya Ka’ab dan Bujair. Di antara penyair yang kemudian muncul dari hasil didikkannya, selain kedua putranya adalah al-Khutaiyyah (Syauqi Dlaif, 1960:303).
Kalangan para perawi puisi menyatakan bahwa Zuhair lambat dalam menciptakan puisi. Hal itu dikarenakan dalam menciptakan puisi dia menempuh langkah-langkah: penggagasan, pngolahan, dan penyeleksian (penyuntingan), sebelum kemudia puisi tersebut dipublikasikan (dibacakan dihadapan khalayak ramai). Oleh karena itulah kepadanya disandarkan kisah proses penciptaan puisi hauliyaat[2]. Hal itu dapat dilihat pula Ka’ab dan Al-khutaiyyah yang mengikuti alirannya (Taha Husein, 1936: 284).
Keistimewaan karyanya terletak pada kekuatan bahasa dan susunan kata-katanya, banyak terdapat kata-kata asing (sulit) dalam puisinya, dia berupaya untuk mencari hakekat makna asli untuk mengeluarkannya pada konkrisitas materi yang sebenarnya. Dengan kekuatan akal dan wawasannya dalam penggambaran-penggambaran dan imajinasinya. Pada umumnya, apa yang diungkapkannya tidaklah jauh dari hakekat realitas yang konkret. Zuhair juga termasuk penyair masa Jahiliyyah yang terkenal dalam pengungkapan kata-kata hikmah dan pribahasa. Dalam kehidupannya ia terkenal dengan konsistensi dan kecerdasannya. Pendapatnya sesuai dengan kehidupannya. Posisi kesusastraannya, menurut kebanyakan para kritikus sastra Arab, dibangun atas hikmah dan kata-kata bijak yang dikenal pada masanya (Karum al-Bustani, 1953:6).
Kepercayaan Hanief
Pada umumnya, masyarakat Arab masa Jahiliyyah adalah penganut kepercayaan berhala. Meskipun demikian, Zuhair bin Abi Sulma termasuk penyair Arab Jahiliyyah yang percaya akan adanya hari Kiamat, adanya Hisab (perhitungan amal perbuatan), dan adanya siksaan serta balasan. Penyair ini memang tidak sempat merasakan masa ketika diutusannya Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, penyair ini sudah percaya akan datangnya hari Kiamat dan hari pembalasan. Seperti terlihat pada bait puisinya dibawah ini[3]:
فلا تكتمنّ الله ما فى نفوسكم  ¤  ليخفى ومهما يكتم الله يعلم
يؤخر فيوضع فى كتاب فيدخر  ¤ ليوم الحساب أو يعجل فينقم
“Janganlah sekali-kali kalian menyembunyikan kepada Allah (penghianatan dan pelanggaran atas sumpah kalian) dalam hati kalian dengan tujuan untuk menyembunyikannya, tetapi ingatlah!! Walau kalaian sembunyikan, Allah maha mengetahui”.
“Ditangguhkan, lalu dicatat dalam buku amal dan disimpan untuk kemudian diungkapkan di hari perhitungan, atau disegerakan pembalasannya dalam kehidupan  dunia ini”.
Jika benar bait-bait puisi di atas dinisbatkan kepada Zuhair bin Abi Sulma, maka hal itu dapat dijadikan petunjuk bahwa dia termasuk salah seoorang penyair masa Jahiliyyah yang mempunyai kepercayaan yang hanief (lurus), dan kepercayaan keberhalaannya diragukan. Bahkan ada yang berpendapat bahwa dia termasuk golongan orang-orang yang mengharamkan khamr (arak atau minuman keras), mabuk, dan mengundi nasib dengan panah (Syauqi Dhoif, 1960:303). Zuhair berumur panjang dan meninggal sekitar setahun sebelum Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul.
Puisi-Puisinya
Kumpulan puisi Zuhair telah diterbitkan bersama kumpulan-kumpulan puisi dari lima penyair terkenal lainnya, yaitu Umru al-Qais, an-Nabighah, Tharafah, Antarah, dan al-Qamah. Kumpulan puisi yang lain diterbitkan pada tahun 1889 dalam bentuk serial yang berjudul “Tharafa Arabiyyah”, kemudian dicetak ulang di Mesir dan di kota-kota lain yang diusahakan oleh Musthafa Saqa.
Ada dua sumber mengenai kumpulan puisi Zuhair, Pertama, berasal dari ulama Basrah yang mengatakan bahwa ada 18 kasidah, sebagaimana ada komentar yang berbunyi: “Mencakup semua kasidah Zuhair yang sampai pada kita atas dasar riwayat yang ada”. Adapun sumber kedua, berasal dari ulama Kufah yang mengatakan bahwa ada tambahan sepuluh kasidah, tetapi bahwa tambahan itu adalah ulah tangan orang lain.
Para ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Zuhair bin Abi Sulma termasuk ke dalam katagori yang tinggi, dan hampir dapat disamakan dengan puisi Umru al-Qais dan An-Nabighah az-Zibyani. Dalam hal itu mereka beralasan bahwa Zuhair memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:
1.      Ijaz-nya bagus dan suka membuang tambahan pembicaraan serta kata-kata yang kurang dipelukan, sehingga ia menciptakan sedikit kata banyak makna, seperti dalam kata-katanya di bawah ini:
فما يك من خير أتوه فإنما  ¤  توارثه آباء آبائهم قبل
“Tak ada kebaikan yang mereka persembahkan. Sesungguhnya kebaikan yang mereka miliki hanyalah warisan dari nenek moyang mereka sebelumnya”
2.      Madah-nya bagus dan menjauhi kedustaan di dalamnya. Dia tidak memuji seseorang melainkan karena akhlaknya dan sifat-sifat terpuji yang diketahuinya, seperti dalam kata-katanya di bawah ini:
على مكثريهم رزق من يعتريهم  ¤  وعند المقلين السماحة والبذل

“Terhadap mereka yang banyak hartanya ia sediakan pemberian untuk orang-orang yang meminjam dari mereka. Pada orang yang berkurangan, ia sangat bertoleran dan memberi bantuan”
3.      Kata-katanya jauh dari ta’qid (komplikasi) kata dan makna, serta jauh dari pembicaraan yang tidak perlu dan asing (sulit dicari maknanya), seperti dalam kata-katanya di bawah ini:
ولو أن حمدا يخلد الناس أخلدوا  ¤  ولكن حمد الناس ليس بمخلد

“Jika pujian dapat membuat seseorang menjadi abadi, mereka pun pasti akan abadi. Tetapi, pujian orang-orang tidak akan bisa membuatnya abadi”
4.      Puisinya sedikit sekali mengandung kata-kata yang buruk. Oleh karena itu, puisi-puisinya bersih dan sedikit sekali adanya cercaan di dalamnya. Pernah suatu kali, ia mencerca suatu kaum, namun ia sedih dan menyesali apa yang telah diperbuatnya.
5.      Banyak mengungkapkan amtsal (pribahasa) dan kata-kata hikmah, sehingga penyair ini dianggap sebagai orang yang pertama dalam menciptakan kata-kata hikmah dalam puisi Arab, yang kelak akan diikuti oleh penyair lainnya, seperti Shalih bin Abdul Kudus, Abu al-Atahiyah, Abu Tamam, al-Mutanabby, dan Abu al-Ala’ al-Ma’ary dari kalangan Arab peranakan (al-Muwalidin). Di antara kata-katanya yang berisikan amtsal dan kata hikmah seperti terdapat di bawah ini:
وأعلم ما فى اليوم والأمس قبله  ¤  ولكنى عن علم ما فى غد عم
ومن يجعل المعروف من دون عرضه  ¤   يفره ومن لا يتق الشتم يشتم
ومن يك ذا فضل فيـبخل بفضله  ¤  على قومه يستغن عنه ويذمم
ومن يوف لايذمم ومن يهد قلبه  ¤  إلى مطمئن البر لا يتجمجم
رأيت المنايا خبط عشواء من تصب  ¤  تمته ومن تخطئ يعمّر فيهرم
ومن هاب اسباب المنايا ينلنه  ¤  وإن يرق اسباب السماء بسلّم
ومن يجعل المعروف فى غير أهله  ¤  يكن حمده ذماّ عليه ويندم
“Aku dapat mengetahui segala yang terjadi pada hari ini dan kemarin, tetapi aku tetap tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari”
“Barang siapa berbuat kebaikan dari kedalaman harga dirinya, ia akan terpelihara, dan barang siapa yang tidak melindungi diri dari cercaan, ia akan dicerca”              
 ”Barang siapa memiliki kelebihan harta, lalu ia bakhil (pelit) dengan hartanya itu terhadap kaumnya, maka ia tidak akan berguna dan akan dicerca”
“Barang siapa memenuhi kewajibannya, ia tidak akan dicerca, barang siapa hatinya mendapat petunjuk menuju ketentraman dalam berbuat kebaikan, maka ia tidak akan terguncang oleh ketegangan”
“Aku lihat maut itu datang tanpa permisi terlebih dahulu, barang siapa yang didatangi pasti akan mati, dan barang siapa yang luput dia akan mengalami lanjut usia”.
“Barang siapa yang takut mati, pasti ia akan bertemu juga dengan kematian itu, walaupun ia naik ke langit dengan tangga”
“Barang siapa yang menolong orang yang tidak berhak untuk ditolong, maka ia akan menerima resikonya dan akan menjadikan penyesalan baginya”.
AN-NABIGHAH ADZ-DZIBYANI
Nasab Keluarga Dan Kabilahnya
Penyair ini memiliki nama asli An-Nabighah Az-Zibyani Abu Umamah Ziyad bin Muawiyah. Namun, ia lebih terkenal dengan panggilan an-Nabighah, yang berarti seorang yang pandai berpuisi, karena memang sejak muda ia pandai berpuisi. An-Nabighah merupakan salah seorang tokoh penyair terkemuka Arab Jahiliyyah dan juga menjabat sebagai dewan hakim dalam perlombaan puisi yang diadakan di pasar Ukadz.
Penyair ini selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada para pembesar dan menjadikan puisinya sebagai alat yang paling ampuh untuk mendapatkan kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itulah ia kerapkali dihasut oleh lawannya.
An-Nabighah termasuk salah seorang pemimpin para bangsawan kabilah Dzubyan, hanya saja karena usahanya mendapatkan harta melalui puisi, mengurangi kemuliaannya. Hampir seluruh umurnya, ia habiskan di kalangan keluarga raja Hira, sehingga raja Hira yang bernama Nu’man bin Mundzir sangat cinta kepadanya, sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penyair ini di kalangan raja Hira selalu memakai bejana dari emas dan perak, dan hal itu menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi raja Hira. Hal itu berlangsung cukup lama, sampai salah seorang saingannya memfitnahnya dan menghasut Nu’man, sehingga ia marah dan merencanakan untuk membunuh An-Nabighah. Salah seorang pengawal Nu’man secara diam-diam menyampaikan berita tersebut, sehingga An-Nabighah pun segera melarikan diri dan meminta perlindungan kepada raja-raja Ghossan yang menjadi saingan raja-raja Manadzirah dalam memperebutkan penguasaan atas bangsa Arab.
Namun, karena lamanya persahabatan yang ia jalin dengan Nu’man bin Mundzir, An-Nabighah berusaha untuk membersikan diri atas fitnah yang ditujukan kepadanya dan meminta maaf kepadanya dengan puisi-puisinya untuk melenyapkan kebencian Nu’man dan meluluhkan hatinya, serta menempatkan kembali posisinya semula di sisi raja Nu’man bin Mundzir. Hal tersebut dapat dilihat dalam puisi i’tidzariyat (permohonan maaf)-nya di bawah ini:

فإنك شمس والملوك كواكب  ¤  إذا طلعت لو يبد منهنّ كوكب

“Sesungguhnya engkau bagaikan malam yang kujelang meski aku didera kehampaan, tapi tempat berharap maaf darimu sungguh luas membentang”
An-Nabighah berusia panjang dan meninggal menjelang keutusan Nabi Muhammad Saw.
Kedudukan Puisinya
Sebagian besar ahli sastra Arab mendudukan puisi an-Nabighah pada deretan ketiga sesudah sesudah Umru al-Qais dan Zuhair bin Abi Sulma. Hanya saja penilaian ini sangat relatif sekali, karena setiap orang pasti mempunyai penilaian masing-masing. Walaupun demikian karya puisi merupakan puisi yang sangat tinggi nilainya. Karena pribadi penyair ini sangat berbakat dalam berpuisi. Oleh sebab itu, tidak heran bila penyair ini diangkat sebagai dewan juri dalam setiap perlombaan berdeklamasi dan berpuisi tiap tahun di pasar Ukadz.
Dalam perlombaan deklamasi dan berpuisi itu, para penyair berdatangan dari segala penjuru tanah Arab semuanya berkumpul di pasar Ukadz, Daumat al-Jandal, dan Dzil Majanah. Dalam kesempatan ini, mereka mendirikan panggung untuk dewan juri, dan salah seorang dari dewan juri itu adalah an-Nabighah sendiri, karena dia dikenal sebagai seorang yang mahir dalam menilai puisi. Dan apabila ada puisi yang dinilai baik, maka puisi itu akan ditulis dalam lembaran khusus dengan menggunakan tinta emas, kemudian digantungkan pada dinding Ka’bah sebagai penghormatan bagi penyairnya.
Keistimewaan puisi an-Nabighah bila dibandingkan dengan puisi Umru al-Qais dan Zuhair bin Abi Sulma, maka puisi an-Nabighah lebih indah dan kata-katanya lebih mantap, bahasanya sederhana sehingga mudah dimengerti oleh semua orang. Dan para penyair lain pun tidak jarang yang meniru gaya an-Nabighah dalam berpuisi, sehingga orang yang suka akan kelembutannya puisinya, seperti Jarir, menganggap bahwa ia merupakan penyair Jahiliyyah yang paling piawai. Ketergiurannya untuk mencari penghidupan dengan puisi, justru membuka teknik baru dalam jenis puisi madah (pujian) serta melakukan perluasan dan pendalaman dalam jenis puisi itu, sehingga dia mampu memuji sesuatu yang kontradiktif.
Kepiawaiannya itu terlihat ketika pada suatu hari ia hendak memuji raja Nu’man bin Mundzir yaitu seorang raja yang paling disukainya. Waktu itu ia melihat matahari yang sedang terbit dengan terang. Oleh karena itu raja Nu’man diumpamakan dalam puisinya sebagai matahari yang terbit, dimana matahari bila sedang terbit, maka sinarnya itu akan mengalahkan sinar bintang di malam hari. Untuk itu penyair itu berkata seperti di bawah ini[1]:
فإنك شمس والملوك كواكب  ¤  إذا طلعت لو يبد منهنّ كوكب
“Sesungguhnya kamu adalah matahari dan raja-raja selainmu adalah bintang-bintangnya, yang mana bila matahari terbit, maka bintang-bintang itupun akan hilang dari penglihatan”.
Selain dari bait puisi di atas, masih banyak lagi dari kumpulan puisinya yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Perancis oleh Monsiur Dierenburg pada tahun 1868, karena puisinya banyak digemari orang.
Puisi-Puisinya
An-Nabighah mempunyai diwan (antologi) puisi yang dikomentari oleh Batholius (Ibnu Sayyid al-Batholius) yang telah berulang-ulang dicetak, meskipun antologi puisinya itu tidak menghimpun seluruh puisinya. Di antara puisinya yang paling indah adalah yang terdapat di dalam mu’allaqat-nya yang bait-bait pertamanya berbunyi:

عوجوا فحيوا لنعم دمنة الدار  ¤  ماذا تحيون لوى وأحجار
أقوى وأقفز من نعم وغيره  ¤ هوج الرياح بهلبى الترب موار
وقفت فيها سراة اليوم أسألها  ¤ عن آل نعم أمونا عبر أسفار
فاستعجمت دار نعم ما تكلمنا  ¤  والدار لو كلمنا ذات أخبار
“Berhentilah kalian untuk menyapa, menyalami, sungguh indah reruntuhan perkampungan, apa yang kalian salami adalah timbunan tanah dan bebatuan”
“Tanah lenggang, sepi dari binatang liar, dan telah diubah oleh hembusan badai serta hujan yang datang dan pergi”
“Aku berdiri di atasnya, ditengah reruntuhan dan bertanya kepadanya tentang serombongan unta yang biasa lewat di sana”
“Reruntuhan rumah yang indah , demikian asing, membisu tak mau berbicara pada kami, dan reruntuhan rumah itu, andai ia mau berbicara pada kami, pasti ia punya banyak cerita”
Di antara kata-katanya yang paling bagus dalam puisi i’tidzar-nya seperti yang terdapat di bawah ini:
أتانى (أبيت اللعن) أنك لمتنى  ¤  وتلك التى أهتم منها وأنصب
فبت كأن العائدات فرشن لى  ¤  هواسا به فراشى ويقشب
حلفت فلم أترك لنفسك ريبة  ¤  وليس وراء الله للمرء مذهب
لئن كنت قد بلغت عنى جناية  ¤  لمبلغك الواشى أغشى وأكذب
ولكننى كنت امرءا لى جانب  ¤ من الأرض فيه مستراد ومهرب
“Telah sampai berita padaku tentang abaital la’ni bahwa engkau mencercaku, itulah yang membuat penting dan aku menjadi sangat lelah” “semalaman, seakan para pembesuk menjengukku, menebar duri-duri tajam di atas tempat tidur dan menusuk-nusukku”
“Aku bersumpah tidak akan meninggalkan keraguan pada dirimu. Setelah Allah, bagi seseorang tidak ada lagi tempat kembali”
“Jika berita mengenai dosa yang aku lakukan telah sampai padamu, yang menyampaikan berita padamu itu, sungguh penjilat yang paling jahat dan paling dusta”
“Tetapi aku adalah orang yang memiliki tempat yang lain di bumi, di mana aku mengais rizqi dan tempat melarikan diri”
Di antara puisi-puisinya yang lain,

وأنت كالدهر مبثوثا حبائله  ¤  والدهر لا ملجأ منه ولا هرب
أضحت خلاء وأضحى أهلها احتملوا  ¤  أخنى عليها الذى أخنى على لبد
نبئت أن أبا قابوس أوعدنى  ¤  ولا قرار على زأر من الأسد
فلو كفى اليمين بغتك خونا  ¤  لأفردت اليمين عن الشمال
“Engkau bagaikan sang masa, terbentang luas tali-tali kasihnya. Sang masa, tak ada tempat berlindung dan tempat melarikan diri selainnya”
“Sahara menjadi lengang, penduduknya memikul beban, yang menghancurkan Lubad telah dihancurkannya”
“Aku mendapat berita bahwa Abu Qabus mengancamku, tapi dalam auman singa tak ada yang pasti”
“Jika golongan kanan cukup menimbulkan kebencianmu, karena berkhianat. Sungguh aku sendiri dari golongan kanan yang berasala dari golongan kiri”
UMRU’ AL-QAIS BIN HUJRIN

Kabilah Dan Keluarga Umru’ Al-Qais
Penyair ini memiliki nama lengkap Umru’ al-Qais bin Hujrin bin al-Harits al-Kindi, dan berasal dari suku Kindah, yaitu suatu suku yang pernah berkuasa penuh di daerah Yaman. Karena itu, ia lebih dikenal sebagai penyair Yaman (Hadramaut). Kabilah ini adalah keturunan dari bani Harits yang berasal dari Yaman, daerah Hadramaut Barat. Mereka mendiami daerah Nejed sejak pertengahan abad ke-5 Masehi.
Suku Kindah merupakan salah satu kabilah bangsawan Arab yang harus menghadapi dua saingan kerajaan yang cukup kuat, yaitu Malik al-Khairah dan Husasanah. Keduanya saling berusaha untuk menghalang-halangi pengaruh suku Kindah terhadap suku-suku lain, sehingga mengakibatkan terjadinya peperangan terus-menerus dan turun-menurun.
Nasab penyair ini termasuk ke dalam kalangan terhormat, ia anak seorang raja Yaman yang bernama Hujur al-Kindi, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Rabiah saudara Kulaib Taghlibiyyah, yaitu seorang pewira Arab yang amat terkenal dalam peperangan al-Basus dan saudara dari Muhalhil, yang juga seorang penyair.
Hujur al-Kindi adalah ayah Umru’ al-Qais, yang meninggal dibunuh oleh kabilah Bani Asad. Namun, para sastrawan dan kritikus sastra Arab berselisih pendapat tentang sebab terbunuhnya ayah Umru’ al-Qais. Salah satunya adalah pendapat pengarang kitab al-Aghāni (Ibnu Mandzur, tt:248). Ia berpendapat bahwa penyebab kematiannya terdapat empat riwayat, yaitu:
1.      Diriwayatkan dari Hisam ak-Kalabi (w.204 H), menyatakan sebab terbunuhnya Hujur al-Kindi adalah sebagai tindakan balas dendam bani Asad terhadapnya. Karena pemimpin mereka Amr bin Mas’ud al-Asadi dipenjara dan harta kekayaan mereka dirampas serta mereka diusir dari rumah tempat tinggal mereka.
2.      Diriwayatkan dari Abu Faraj dan Abi Amr as-Saibani (w. 213 H), berpendapat bahwa terbunuhnya Hujur al-Kindi merupakan akibat kelalaian dirinya sendiri ketika ia berlindung kepada Uwair bin Sijnah karena rasa takutnya kepada bani Asad.
3.      Diriwayatkan dari Abu Faraj dari Ibnu Sikkit (w. 244 H), berpendapat bahwa Hujur al-Kindi meninggal terbunuh oleh seorang pemuda ketika berperang melawan bani Asad sebagai balas dendam kepadanya.
4.      Diriwayatkan dari Abu Faraj dari Hisam bin ‘Adi (w. 206 H), pendapat ini sama dengan pendapat no. 2, hanya saja ia dibunuh sebab kelengahannya ketika berperang dengan bani Asad.
Namun, menurut Syauqi Dhaif[1], ia berpendapat bahwa riwayat yang paling benar adalah riwayat terakhir.
Kehidupan Umru’ Al-Qais 
Di dalam buku-buku atau lteratur sastra Arab telah terjadi perselisihan pendapat mengenai siapa sebenarnya nama Umru’ al-Qais Terdapat bermacam-macam nama bagi penyair ini, yaitu Hunduj, ‘Adiyan, dan Mulaikah. Nama pendeknya Abu Wahab, Abi Zaid, dan Abu Harits. Ada juga yang mengatakan bahwa ia dijuluki dengan nama Dzu al-Qurut[2] dan al-Malik ad-Dlalil[3]. Akan tetapi julukan (laqab)nya yang paling terkenal adalah Umru’ al-Qais. Julukan al-Qais diambil dari nama salah satu berhala di masa Jahiliyyah. Mereka mengagungkannya  dan menisbatkan segala sesuatu kepadanya.
Sebagian ahli sastra Arab berpendapat bahwa nasab Umru’ al-Qais  dari ayahnya Semith bin Umru’ al-Qais bin Amr al-Kindi. Adapun nasab ibunya, Tamaluk bin Amr bin Zubaid bin Madzhad dari Suku Amr bin Ma’ad Yakrub. Diriwayatkan bahwa di masa Jahiliyyah terdapat enam belas penyair Arab yang kesemuanya bernama Umru’ al-Qais, sehingga terjadi perselisihan di antara satu sama lain[4]. Adapun tentang kapan dilahirkannya, para ahli sejarah sastra Arab tidak mengetahui dengan pasti kapan dia dilahirkan. Namun, ada yang mengatakan bahwa ia dilahirkan pada permulaan abad ke-6 M.
Dari segi nasab tersebut, sangat berpengaruh terhadap kepribadian penyair Yaman ini. Sejak kecil penyair ini dibesarkan di Nejed, di tengah-tengah Bani Asad, rakyat ayahnya. Ia hidup di dalam kalangan keluarga bangsawan yang gemar berfoya-foya. Kehidupannya sebagai anak seorang raja berpengaruh sekali dalam pembentukan kepribadiannya. Ia memiliki kebiasaan bermain cinta, bermabuk-mabukkan, dan melupakan segala kewajiban sebagai anak raja yang seharusnya pandai mawas diri dan berlatih untuk memimpin masyarakat. Ia kerapkali dimarahi oleh ayahnya karena perangainya yang buruk, bahkan akhirnya dia diusir dari istana.
Selama masa pembuangan, Umru’ al-Qais bergabung dengan para penyamun, preman/brandalan, serta tunawisma Arab yang sebaya dengannya. Ia mengembara ke sebagian besar daerah jazirah Arab untuk menghabiskan waktunya bersama masyarakat Badui. Orang-orang Badui ini gemar sekali mengikutinya karena disamping mereka butuh akan hartanya, mereka juga membutuhkan spritit lewat puisi-puisinya untuk menghadapi lawan-lawan mereka.
Masa pengembaraan penyair ini berlangsung cukup lama. Dan pengalaman pengembaraannya itu kelak akan membawa pengaruh yang amat kuat pada puisi-puisinya. Selama pengembaraannya itu, ia mendapatkan pengetahuan, pelajaran, dan pengalaman yang baru yang dituangkan dalam karya-karyanya. Dibandingkan dengan penyair lain yang tidak banyak berkelana, puisi Umru’ al-Qais memiliki nilai lebih, baik dari keindahan maupun sistematika bahasa.
Kebiasaan buruk Umru’ al-Qais yang senang berfoya-foya, tidak juga hilang meskipun ia dalam masa pembuangan. Suatu hari, ketika ia sedang berada di salah satu warung minuman dan hiburan di Dammun, datang seorang kurir menyampaikan berita mengenai kematian orang tuanya yang terbunuh di tangan kabilah Bani Asad, yaitu sebuah kabilah yang sedang memberontak terhadap kekuasaan ayahnya. Mendengar berita kematian orang tuanya itu tidak membuatnya terkejut dan menuntut balas, tetapi berita itu tidak disambut baik olehnya, bahkan dengan malas-malasan ia berkata[5]:
 ”ضيعني صغيرا, وحـملني دمه كبيرا, لا صحو اليوم, ولا سكر غدا, اليوم خمر, وغدا أمر”
“Dulu, sewaktu aku kecil, aku dibuang, dan kini setelah aku dewasa, aku dibebani dengan darahnya, biarkan saja urusan itu, sekarang waktunya untuk bermabuk-mabukan, dan esok barulah waktu untuk menuntut darahnya”[6].
Namun akhirnya, ia berangkat juga menuju Nejed untuk menuntut balas atas kematian orang tuanya. Dalam menunaikan pembalasannya itu, ia terpaksa meminta bantuan kepada kabilah-kabilah Arab yang berada di sekitarnya. Sehingga pertempuran itu berkecamuk lama, dan akhirnya ia melarikan diri menuju kerajaan Romawi Timur (Byzantium) di Turki. Di tengah perjalanan, penyair itu terbunuh oleh musuhnya dan di makamkan di kota Angkara, Turki, dan tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia terbunuh, diperkirakan kurang lebih 82 sebeum Hijriyyah atau 530-540 Masehi.
Karya Sastra Umru’ Al-Qais
Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa diantara puisi-puisi al-Mu’allaqat, puisi Umru’ al-Qais merupakan puisi yang palin terkenal dan menduduki posisi penting dalam khazanah kesusastraan Arab Jahiliyyah. Mu’allaqat Umru’ al-Qais merupakan peninggalan yang paling monumental yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan kesusastraan Arab pada masa-masa selanjutnya. Puisi-puisinya seringkali dipakai sebagai referensi dalam kajian ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharf, maupun balaghah.
Keistimewaan puisi-puisinya, bersandarkan pada kekuatan daya khayalnya dan pengalaman dalam pengembaraannya. Bahasa yang digunakan sangat tinggi dan isinya padat. Bait-bait puisinya menggambarkan cerita yang panjang, satu bait puisinya memiliki tujuan yang sangat banyak. Ia juga dianggap sebagai orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan cara istikafus-Shahby[7], cara seperti ini sangat menarik bila digunakan dalam puisi ghazal dan tasybib (cara untuk merayu wanita), dan cara seperti itulah yang amat digemari penyair Arab untuk membuka kasidahnya untuk menarik perhatian orang. Ia juga dianggap sebagai penyair pertama dalam mensifati kecantikan seorang wanita dengan mengumpamakannya seperti seekor kijang yang panjang lehernya, karena seorang wanita yang panjang lehernya, menandakan sebagai seorang wanita yang cantik.
Orang yang mempelajari puisi karya Umru’ al-Qais dengan mendalam, maka akan ditemukan bahwa keindahan penyair ini terletak pada caranya yang halus dalam puisi ghazal-nya. Ditambah dengan gaya isti’arah (kata-kata kiasan dan perumpamaan). Sehingga banyak yang beranggapan bahwa ialah orang pertama yang menciptakan perumpamaan dalam puisi Arab. Walauun terkadang puisi-puisinya juga tidak luput dari perumpamaan yang cabul, tetapi itu tidak mengurangi nilai dalam puisinya, karena bentuk kecabulannya itu tidak terlalu berlebihan, dan perumpamaan semacam itu merupakan kebiasaan dari para penyair Arab.
Secara garis besar bait-bait puisinya yang terkumpul dalam kasidah mu’allaqat-nya meliputi beberapa tema, antara lain:
  • Mengenai perpisahan seorang sahabat yang membekas dan memilukan, yang menyebabkan air mata bercucuran menyertai kepergfiannya untuk mengembara.
  • Mengenang hari daratul jaljal sebagai cerminan kisah romantis. Tema ini merupakan ungkapan cinta sejati yang tidak mungkin terlupakan. Dan konon tema inilah yang membuat Umru’ al-Qais terpilih menjadi penyair al-Mu’allaqat.
  • Mengenai senda gurau yang diibaratkan pertarungan dengan seorang pelacur.
  • Mengenai doa untuk kekasihnya Unaizah, sebagai persembahan cinta yang sejati.
  • Mengenai pertarungan untuk merebut idaman hati.
  • Menggambarkan malam dan waktu-waktu yang dilaluinya, serta kejadian-kejadian luar biasa yang dialaminya.
  • Mengenai penderitaan akan kegagalan.
  • Mengenai simbolisasi kuda dengan kecepatan yang luar biasa.
  • Mengenai pengibaratan pemimpin suku Badui dengan kilat dan hujan, sedangkan pengikutnya dengan jurang yang dalam dan pegunungan yang tinggi.
Walaupun pemakaian kata-kata kiasan, pengibaran dengan alam, dan simbolisasinya, tidak hanya didominasi oleh puisi-puisi Umru’ al-Qais, tetapi dilakukan juga oleh para penyair lain. Akan tetapi, para ahli puisi Arab, berpendapat bahwa ialah orang yang pertama kali menciptakan puisi-puisi kontoversial pada zamannya, dan tidak jarang kata-kata yang bernada sinisme juga dipakai oleh Umu al-Qais dalam puisi-puisinya.
Terkadang ia juga berkata vulgar yang mengarah ke pornografi dalam ungkapan-ungkapan komparasi  dan pembicaraannya mengenai wanita. Tercium pula aroma kecerdasan dan kepiawaiannya, serta tersirat pula indikasi-indikasi kepemimpinannya. Hal itu diantaranya terdapat dalam kata-katanya di bawah ini:
فظل العذرى يرتمين بلحمها  ¤  وشحم كهداب الدمقس المفتل
وظل طهاة اللحم من بين منضج  ¤  صفيف شواء أو قدير معجل

“Gadis-gadis itu terus melahap dagingnnya dan lemaknya bagaikan kain sutra putih”
“Mereka terus memasak daging antara yang matang dengan dipanggang, dan ada yang direbus setengah matang”
ولو أن ما أسعى لأدنى معيشة  ¤  كفانى ولم أطلب قليل من المال
ولكنما أسعى لمجد مؤثل  ¤  وقد يدرك المجد المؤثل أمثال
“Seandainya yang kuusahakan ini untuk kehidupan yang rendah, aku sudah kecukupan, dan tak perlu lagi mencari secuil harta”
“Akan tetapi, aku berusaha untuk suatu keagungan sejati, yang terkadang keagungan sejati itu mampu tergapainya orang-orang sepertiku”
Di bawah ini merupakan contoh puisi Umru’ al-Qais dalam bab Ghazal yang menceritakan perjalanan bersama kekasihnya yang bernama Unaizah, seperti di bawah ini[8]:
ويوم دخلت الخدر خدر عنيزة  ¤  فقالت لك الويلات إنك مرجلى
تقول وقد مال الغبيط بنا معا  ¤  عقرت بعيرى يا امرأ القيس فانزل
فقلت لها سيرى وارخى زمامه  ¤  ولا تبعدينى من جناك المعلّل
“Suatu hari ketika aku sedang masuk  ke dalam Haudat[9] kekasihnya Unaizah, maka Unaizah berkata kepadaku: “Celakalah kamu, jangan kamu beratkan untaku”.
“Ketika punggung untanya agak condong ke bawah (karena berat), maka ia berkata kepadaku:  “Turunlah hai Umru al-Qais, janganlah kamu ganggu jalan untaku ini”.
“Di saat itu, kukatakan kepadanya: “Teruskanlah perjalananmu dan lepaskanlah tali kekangnya, janganlah engkau jauhkan aku dari sisimu”.
Penyair ini juga mensifati kecantikan kekasihnya, Unaizah, seperti dalam bait puisi di bawah ini[10]:
فلمّا اجزنا ساحة الحىّ وانتحى  ¤  بنا بطن خبت ذى حقاف عقنقل
هصرت بفودى رأسها فتمايلت  ¤  على هضيم الكشح ريّا المخلخل
مهفهفة بيضاء غير مفاضة  ¤  ترائبها مصقولة كالسّجنجل
وجيد كجيد الرئم ليس بفاحش  ¤  اذا هي نصته ولا بمتعطل
وفرع يزين المتن اسود فاحم  ¤  انيث كقنو النخلة المتعثكل
“Ketika kami berdua telah melewati perkampungan, dan sampai di tempat yang aman dari intaian orang kampung”
“Maka kutarik dirinya sehingga ia dapat merapat kepadaku, perutnya ramping dan dadanya putih bagaikan kaca”.
“Lehernya jenjang bak leher kijangi, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun, karena lehernya dipenuhi kalung permata”.
“Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang korma”.
Pada bait puisi di atas Umru’ al-Qais menggambarkan kecantikan kekasihnya dengan gayanya yang khas, dan gambaran yang seindah itu tidak dapat terlukiskan, kecuali bagi orang yang mempunyai daya khayal yang tinggi, ditambah dengan pengalaman yang luas, sehingga dengan itu semua ia dapat melukiskan sesuatu dengan berbagai macam perumpamaan dan sepertinya benar-benar terjadi.
Contoh lain yang menunjukkan kemahiran penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada benar-benar terjadi. Seperti kesusahan yang dialaminya pada malam hari, seperti dibawah ini[11]:
وليل كموج البحر مرخ سدوله  ¤    عليّ بأنواع الهموم ليبتلى
فقلت له لمـّا تمطّى بصلبه  ¤  واردف اعجازا وناء بكلكل
الا ايّها اللّيل الطويل الا انجلى  ¤  بصبح وما الإصباح منك بأمثل
“Di kala gelap malam bagaikan badai laut yang tengah meliputiku dengan berbagai macam keresahan  untuk mengujiku (kesabaranku)”.
“Di kala malam itu tengah memanjangkan waktunya, maka aku katakan padanya”.
“Hai malam yang panjang, gerangan apakah yang menghalangimu untuk berganti dengan pagi hari? Ya walaupun pagi itu pun belum tentu akan sebaik kamu”.
Pada bait-bait puisi di atas, sebenarnya penyair ini ingin mengutarakan betapa malang nasibnya. Di mana keresahan hatinya akan bertambah susah bila malam hari tiba. Karena saat itu ia merasa seolah-olah malam itu sangat panjang sekali. Sehingga ia mengharapakan waktu pagi segera tiba, agar keresahannya dapat berkurang, namun sayang sekali keresahannya itu tidak juga berkurang walaupun pagi hari telah tiba. Puisi di atas, tidak lain merupakan contoh dari kepandaian Umru’ al-Qais dalam menggambarkan suatu keadaan. Sehingga seolah-olah itu benar-benar terjadi.
Bait puisinya terkumpul semuanya dalam kasidah mu’allaqat-nya. Mu’allaqat Umru’ al-Qais sangat terkenal dikalangan setiap orang yang mempelajari kesusastraan Arab. Penyair ini menciptakan kasidah muallaqadnya tidak lain adalah untuk mengabadikan suatu kejadian yang dialaminya. Seperti kejadian yang dialaminya besama sang kekasih Unaizah.
Pada suatu ketika Umru’ al-Qais ingin bertemu kekasihnya, namun keinginannya itu selalu dihalangi oleh pamannya, karena ia takut anak puterinya itu akan terbujuk dengan puisi Umru’ al-Qais. Karena itulah, Umru’ al-Qais berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan kesempatan agar dapat bertemu dengan anak pamannya yang bernama Unaizah. Dan pada suatu ketika, ia berhasil bertemu dengan Unaizah dan bersepakat bertemu dalam kesempatan lain bila anggota kabilahnya sedang pergi mengambil air. Dan telah menjadi kebiasaan kabilah itu, bila hendak mengambil air kaum lelaki berjalan terlebih dahulu, kemudian barulah diikuti kaum wanita dari belakang.
Sewaktu kaum lelaki pergi ke mata air, Umru’ al-Qais tidak keluar bersama mereka, bahkan penyair ini menunggu keberangkatan kaum wanita. Dan ketika kaum wanita keluar menuju mata air, maka Umru’ al-Qais keluar mendahului mereka agar dapat sampai lebih dahulu. Sesampainya di mata air yang bernama Juljul yang terletak di daerah Kindah (Nejed), penyair ini langsung bersembunyi di balik batu yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Ketika rombongan wanita yang di dalamnya terdapat kekasihnya tiba di mata air Juljul, maka mereka langsung menanggalkan pakaiannya masing-masing, dan meletakkannya di atas batu. Setelah mereka masuk ke dalam air, maka Umru’ al-Qais yang tengah asyik memperhatikan dari balik batu, langsung mengambil pakaian mereka semua, dan berjanji tidak mengembalikannya kecuali bila mereka keluar dari mata air itu  dengan keadaan telanjang bulat. Melihat kejadian itu, semua kaum wanita terkejut dan meminta Umru’ al-Qais untuk mengembalikan pakaian mereka. Namun Umru’ al-Qais tetap bersikeras tidak mengembalikan pakaian mereka bila mereka tidak mau keluar dalam keadaan telanjang bulat.
Akhirnya, dengan keadaan terpaksa kaum wanita itu keluar dari mata air Juljul dalam keadaan telanjang bulat untuk mengambil pakaian mereka dari tangan Umru’ al-Qais, tetapi hanya Unaizah yang tidak mau keluar dari mata air, dan ia meminta Umru’ al-Qais untuk mengembalikan pakaiannya. Setelah ia mengetahui bahwa Umru’ al-Qais tidak akan mengembalikan pakaiannya, maka dengan terpaksa Unaizah keluar dari mata air dengan keadaan telanjang dan meminta Umru’ al-Qais untuk mengembalikan pakaiannya. Dan kemenangannya itu, diabadikannya dalam kasidah mu’allaqat-nya.
Umru’ al-Qais juga memiliki puisi-puisi panjang dan pendek. Puisi panjangnya yang paling terkenal dan menjadi buah bibir orang dalam kepopulerannya, terdapat dalam kumpulan mu’allaqat-nya seperti terdapat di bawah ini:
قفا نبك من ذكرى حبيب ومنـزل  ¤  بسقط اللوى بين الدحول فحومل
فتوضح بالمقراة لم يعف رسمها  ¤  لما نسجتها من جنوب وشمال
“Marilah kita berhenti untuk menangis (mengenang) kekasih dan rumahnya di Siqthi liwa antara Dakhul dan Haumal”
“Tudlih dan Miqrat, bekas-bekasnya belumlah lenyap karema hembusan angina selatan dan angina utara”
Umru’ al-Qais juga memiliki puisi yang berisikan hikmah-himah atau kata-kata mutiara, seperti yang terdapat di bawah ini:

إذا المرءا لم يخزن عليه لسانه  ¤  فليس على شيئ سواه بخزان
فإنك لم يفخر عليك كفاخر  ¤  ضعيف ولم يغلبك مثل مغلب
“Seseorang, bila lisannya tidak dapat memelihara dirinya, maka tidak ada sesuatu pun yang dapat dipeliharanya”
“Sesungguhnya kamu tidak akan dibanggakan sebagai orang lemah kamu tidak akan dikalahkan oleh orang yang berkali-kali kalah”
Dīwan (kumpulan puisi-puisi) Umru’ al-Qais telah mengalami cetakan berulang-ulang. Pertama kali dicetak di Paris pada tahun 1837 M oleh De Slane. Pada tahun 1870 dibukukan kembali oleh Ahlwardt dan pada tahun 1958 Muhammad Abu Fadl Ibrahim bersama lembaga Dār al-Ma’arif Kairo telah mengeluarkan kembali Dīwan Umru’ al-Qais yang baru, yaitu dengan mengambil dari nushah yang ditulis oleh De Slane. Dīwan tersebut meliputi 28 kasidah dengan sarah (penjelasan) Assantamri (riwayat dari orang Kufah)[12].
Hani Bin Qabishah Bin Hani  Bin Mas’ud Asy-Syaibani
Hani bin Qabishah bin Hani bin Mas’ud asy-Syaibani adalah seorang kepala kabilah dari bani Syaiban, yang terkenal dengan keberaniannya pada akhir zaman Jahiliyyah.
Mengenai keberaniannya, suatu hari, ia diminta oleh Raja Kisra dari Persia, untuk memberikan amanat kepada Nu’man bin al-Mandzur, salah seorang Raja Munadzirat di Hira, Irak, tetapi ia menolak. Maka, terjadilah peperangan antara Persia dan Bakr, suku bani Hani, di sebuah tempat dekat Basrah di Irak, yang dikenal dengan perang Dzi Qaar (yaumu Dzi Qaar), dalam peperangan itu suku Bakr memperoleh kemenangan. Di bawah ini adalah pidato Hani kepada kaumnya pada perang tersebut:
“يا معشر بكر, هالك معذور, خير من ناج فرور, إن الحذر لا ينجى من القدر, وإن الصبر من أسباب الظفر, المنية ولا الدنية, استقبال الموت خير من استدباره, الطعن فى ثغرالنحور, أكرم منه فى الأعجاز والظهور, يا آل بكر, قاتلوا فما للمنايا من بد”.
“Wahai segenap orang-orang kabilah Bakr, mati dalam medan peperangan lebih baik daripada orang yang selamat dengan lari dari perang. Melarikan diri (ketakutan) tidak akan menyelamatkan dari takdir. Sesungguhnya kesabaran merupakan salah satu faktor penyebab kemenangan. Kematian bukanlah sebuah kehinaan. Menyongsong kematian (maut) lebih baik daripada menghindarinya. Tusukan di tenggorakan lebih mulia daripada tusukan di leher dan pundak. Wahai keluarga Bakr, berperanglah! Janganlah kalian takut akan mati, karena kematian akan dimana pun akan menghadang kalian”
Aktsam bin Shaifi
Aktsam bin Shaifi dikenal sebagai orator bangsa Arab Jahiliyyah yang paling bijak, ia juga dikenal sebagai seorang yang paling mengetahui silsilah keturunan bangsa Arab. Di dalam orasinya ia banyak menyisipkan kata-kata hikmah dan peribahasa. Pendapat yang dikeluarkan selalu tepat dan argumentasinya kuat. Selain dikenal sebagai seorang orator yang ulung, ia juga sebagai hakim yang dihormati dan disegani.
Aktsam bin Shaifi memiliki kedudukan yang tinggi disisi kaumnya dan termasuk tokoh pemimpin yang dimuliakan, dan juga penguasa pembesar di kalangan mereka. Sangat sedikit pada masanya, orator yang dapat menandinginya dalam keluasan pengetahuan di bidang silsilah keturunan bangsa Arab, dalam penciptaan pribahasa, dan kata-kata hikmah, juga dalam memecahkan berbagai permasalahan, dan dalam keluhuran pemikirannya.
Aktsam bin Shaifi merupakan ketua dari para orator yang diutus oleh Raja Nu’man untuk menghadap Raja Kisra, Persia. Raja Kisra sangat kagum terhadap Aksam, sehingga ia menyatakan: “Seandainya bangsa Arab tidak memiliki lagi orator sepertimu, kamu sendiri pun sudah cukup”.
Aktsam bin Shaifi memiliki usia yang panjang, ia sempat mengalami masa diutusnya Nabi Muhammad Saw, Ketika ia mendapat berita mengenai di utusnya Nabi Muhammad Saw, ia mengumpulkan kaumnya dan mengajak mereka untuk beriman kepada Nabi Muhammad Saw.
Di dalam pidato-pidatonya, Aktsam jarang menggunakan kata-kata majaz, kalimat-kalimat pidatonya begitu ringkas, padat, merdu, dan mengandung makna yang luas. Pidato-pidatonya juga banyak dihiasi dengan kata-kata mutiara dan pribahasa. Ungkapan orasinya tidak begitu mementingkan persajakan (rima), tetapi lebih cenderung untuk memuaskan pendengarnya dengan argumentasi yang baik  dan bukti. Dia menyandarkan orasinya pada kekuatan pengaruh dan kesan yang ditimbulkan dari kepiawaiannya dalam berorasi. Di bawah ini adalah salah satu contoh orasinya (pidato) yang disampaikan dihadapan Raja Kisra, Persia:
“إن أفضل الأشياء أعاليها, وأعلى الرجال ملوكم, وأفضل الملوك أعمها نفعا, وخير الأزمنة أخصبها, وأفضل الخطباء أصدقها, الصدق منجاة, والكذب مهواة, والشرّ لجاجة, الحزم مركب صعب, والعجز مركب وطئو آفة الرأى الهوى, والعجز مفتاح الفقر, وخير الأمور الصبر, وحسن الظن ورطة, وسوء الظن عصمة, إصلاح فساد الرعية خير من إصلاح فساد الرأعى, من فسدت بطانته كان كالغاص بالماء, شرّ البلاد بلاد لا أمير بها, شرّ الملوك من خافه البرئ, المرء يعجز لا المحالة. أفضل الأولاد البررة, خير الأعوان من لم يراء بالنصيحة, أحق الجنود بالنصر من حسنت سريرته, بكفيك من الزاد ما بلغك المحل, حسبك من شر سماعه, الصمت حكم وقليل فاعله, البلاغة الإيجاز, من شدد نفر, ومن تراخى تألف”
“Sesungguhnya, seutama-utamanya sesuatu adalah yang paling tinggi. Setinggi-tinggi orang adalah raja mereka. Seutama-utama raja adalah yang paling merata kemamfaatannya. Sebaik-baik masa adalah masa yang paling subur (jaya). Seutama-utama orator adalah orator yang paling jujur. Kejujuran adalah penyelamat. Kedustaan adalah lembah kehancuran. Kejahatan adalah berlarutnya pertikaian. Tekad kuat adalah kendaraan yang paling sulit dinaiki. Kelemahan adalah kendaraan yang paling mudah dinaiki. Penyakit berpikir adalah hawa nafsu. Kelemahan adalah kunci kefakiran. Sebaik-baik perkara adalah kesabaran. Baik sangka adalah sesuatu yang menyulitkan. Buruk sangka adalah suatu perlindungan. Memperbaiki kerusakan rakyat lebih baik daripada memperbaiki kerusakan penguasa. Barang siapa yang rusak kawan-kawan dan kroni-kroninya, bagaikan tenggelam dalam air. Seburuk-buruk negeri adalah negeri yang tidak memiliki pemimpin. Sejahat-jahat raja adalah raja adalah raja yang ditakui oleh orang-orang bersih. Seorang akan menjadi lemah jika tidak memiliki usaha. Sebaik-baik pembantu adalah orang yang tidak menentang nasihat. Sebaik-baik tentara yang berhak mendapatkan kemenangan adalah tentara yang baik intusi perangnya. Cukuplah bekal buatmu, yang dapat menghantarkan sampai ke tempat tujuan. Cukuplah kejahatan itu, kamu mendengarnya saja. Balaghah adalah ijaz (kata ringkas dan padat makna). Barang siapa yang kasar akan dijauhi orang, dan barang siapa yang ramah akan didekati orang”.
Qus bin Sa’idah Al-Iyadi
Qus bin Sa’idah al-Iyyadi merupakan seorang orator ulung Arab Jahiliyyah dan menjadi idola dalam ke-balaghah-an orasinya, kata-katanya banyak mengandung hikmat dan nasihat-nasihat yang baik. Ia menganut kepercayaan tauhid dan beriman kepada hari kebangkitan. Ia menyeru masyarakatnya untuk menghentikan penyembahan terhadap berhala, dan berusaha membimbing mereka untuk menyembah kepada Yang Maha Pencipta (al-Khaliq). Dia mengorasikan hal itu kepada masyarakatnya dalam berbagai acara dan pada musim-musim pasaran.
Sebagian ahli sastra Arab menyatakan bahwa Qus bin Sa’idah al-Iyyadi adalah orator pertama yang berorasi di tempat yang tinggi, orator pertama yang mengatakan dalam orasinya kata-kata “amma ba’du” (kemudian dari itu/selanjutnya), dan orator pertama yang berorasi sambil bertelekan (memegang) pedang dan tongkat. Masyarakat banyak yang datang kepadanya untuk meminta pengadilan dan penyelesaian terhadap sebuah permasalahan, dan ia pun mampu mengadili mereka dengan pemikiran yang jernih dan keutusan yang tepat.
Qus bin Sa’idah al-Iyyadi juga orang pertama yang mengatakan: “Pembuktian atas orang yang mendakwa dan sumpah atas orang yang mengingkari”. Ia pernah menjadi duta (wakil) yang diutus kepada Kaisar Romawi. Pada suatu ketika Kaisar Romawi bertanya kepadanya:
“Akal apakah yang paling mulia?”
Qus menjawab: “Akal yang membuat seseorang dapat mengenal dirinya”.
Kaisar bertanya: “Ilmu apakah yang paling utama?”
Qus menjawab: “Ilmu yang dapat membuat seseorang melindungi dirinya”.
Kaisar bertanya: “Sifat apakah yang paling mulia dari seorang ksatria?”
Qus menjawab: “Yaitu sifat ksatria seseorang akan mampu mengendalikan air mukanya”.
Kaisar bertanya: “Harta apakah yang paling mulia?”
Qus menjawab: “Harta yang dapat membuat seseorang dapat menyelesaikan hak-haknya”.
Nabi Muhammad Saw sebelum diutus menjadi pernah mendengar Qus berorasi di pasar Ukadz di atas unta yang berwarna kelabu. Beliau Saw begitu mengagumi keindahan kata-katanya dan mengagumi kelurusannya serta memujinya. Qus berusia panjang dan meninggal menjelang Nabi Muhammad Saw diutus menjadi Rasul.
Kata-kata yang digunakan dalam berorasi begitu selektif, sehingga kesan yang ditimbulkan sangat kuat, jauh dari kesalahan, dan senda gurau. Saja’ (prosa bersajak), pharase-pharase pendek-pendek, selalu muncul secara spontan dalam setiap orasinya. Di antara pidatonya, adalah pidato yang disampaikannya di pasar Ukadz, sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shubhi al-A’sya (1: 212), seperti yang terdapat di bawah ini:
أيها الناس, أسمعوا وعوا, من عاش مات, ومن مات فات, وكل ما هو آت آت, ليل داج, ونهار ساج, وسماء ذات أبراجو ونجوم تزهر, وبحار تزحر, وجبال مرساة, وأرض مدحاة, وأنهار مجراة, إن فى السماء لخبرا, وإن فى الأرض لعبرا, ما بال الناس يذهبون ولا يرجعون؟ أرضوا فأقاموا؟ أم تركوا فناموا؟ يقسم قس بالله قسما لا إثم فيه: إن لله دينا هو أرضى لكم وأفضل من دينكم الذى أنتم عليه. إنكم لتأتون من منكرا”. 

“Wahai segenap manusia dengarlah dan sadarlah. Sesungguhnya orang yang hidup itu akan mati. Orang yang mati itu telah berlalu. Segala yang akan datang itu pasti datang. Malam yang gelap gulita, siang yang terang benderang, langit yang berhias bintang-bintang. Bintang gemintang yang berkerlap-kerlip, lautan yang bergelombang, gunung-gunung yang tinggi menjulang, bumi yang menghampar, dan sungai-sungai yang mengalir. Sesungguhnya di langit itu ada kabar berita, dan di bumi itu penuh dengan pengajaran. Bagaimanakah gerangan berita tentang orang-orang yang telah pergi dan tak kembali? Adakah gerangan karena mereka suka dan mereka menetap di sana? Qus bersumpah demi Allah, suatu sumpah yang tidak mengandung dosa: Sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih disukai-Nya buat kalian, dan lebih utama daripada agama yang kalian jalani. Sesungguhnya kalian benar-benar mendatangkan urusan yang mungkar (yang tidak disukai)”.
Diriwayatkan bahwa setelah berorasi itu, Qus mendendangkan Syi’rnya:
فى الذاهبـين الأوليـ  ¤  ـن من القرون لنا بصائر
لما رأيـت مـواردا  ¤  للموت ليس لها مصادر
ورأيت قومى نحوهـا  ¤  تمض: الأكابر والأصاغر
لا يرجع المـاضى إلى  ¤  ولا من الباقين غـابر
أيقنت أنى لا محــا  ¤  لة حيث صار القوم صائر
“Pada orang-orang terdahulu yang telah berlalu pergi berabad-abad silam, kita mendapatkan berbagai pelajaran”
“Ketika kulihat meeka beramai-ramai menuju telaga kematian yang tidak dapa dihindari”
“Da kulihat kaumku pun menuju ke arah sana dengan tidak perduli, mereka yang tua renta maupun mereka yang muda belia”
“Yang telah berlalu tak akan kembali lagi kepadaku, dan sementara mereka yang masih tersisa tak akan pernah tetap berada”
“Aku pun yakin, bahwa tak ayal lagi aku pun pasti berlalu pergi, menuju tempat ke mana kaumku pergi”

http://jiwasastra.wordpress.com/2011/11/20/5/

1 komentar:

  1. Assalamualaikum.. dimana saya boleh dapatkan terjemahan puisi Harys Bin Hilzah yang lengkap?

    BalasHapus